Sunday, January 18, 2009

Breach of the Gaza–Egypt border 2008

Blokade perbatasan yang dilakukan oleh Israel telah mengundang banyak penderitaan bagi rakyat palestina. Bahkan perbatasan antara Mesir dan Palestina di-blok oleh Israel menggunakan pagar-pagar tinggi.
Pada 23 Januari 2008, perbatasan Mesir-Rafah dihancurkan oleh militan Palestina. Sehingga selama 11 hari perbatasan tersebut terbuka. Warga pun menggunakan kesempatan tersebut untuk membeli berbagai kebutuhan mereka. Inilah foto-foto perjuangan mereka.

Source: http://news.bbc.co.uk
For a third day, tens of thousands of Palestinians have been crossing into Egypt from Gaza after militants used explosives to blow several holes in the border wall.



The police were strongly outnumbered, though, as large numbers of Palestinians managed to sneak through other openings in the border wall.




Hamas militants have been checking some people passing back into Gaza for contraband, and trying to calm tensions between Palestinians and the Egyptian police.





A crane carries a cow from the Egyptian side of Rafah to the Gaza Strip over the border wall.The UN says some 700,000 people have crossed into Egypt since Wednesday. A variety of items have been going the other way, including cows hoisted over the border by cranes.






Source: http://en.wikipedia.org
The breach of the Gaza-Egypt border began on January 23, 2008, after gunmen in the Gaza Strip set off an explosion near the Rafah Border Crossing, destroying part of the former Israeli Gaza Strip barrier. The United Nations estimates that as many as half the 1.5 million population of the Gaza Strip crossed the border into Egypt seeking food and supplies. Israeli police went on an increased alert due to fears that militants would acquire weapons in Egypt.
Israel has controlled the Gazan side of the border since the Six Day War of 1967; Egypt closed its side in June 2007 days before the Hamas party took control over Gaza at the end of the Fatah-Hamas conflict; The breach followed a blockade of the Gaza Strip by Israel beginning in part that same June, with fuel supply reductions in October 2007. A total blockade had begun on January 17, 2008 following a rise in rocket attacks on Israel emanating from Gaza.
Although Israel demanded Egypt reseal the border due to security concerns, Egyptian President Hosni Mubarak ordered his troops to allow crossings to alleviate the humanitarian crisis, while verifying that the Gazans did not attempt to bring weapons back to use against Israel.
The United Nations Human Rights Council condemned Israel for the 15th time in less than two years on January 24, calling the blockade collective punishment. However, the proceedings were boycotted by Israel and the United States.
On January 27, Israeli Prime Minister Ehud Olmert promised that Israel would no longer disrupt the supply of food, medicine and necessary energy into the Gaza Strip. President Mubarak meanwhile announced plans to meet separately with representatives of Hamas and Fatah to come to a new border control agreement.
On February 3, Gaza's Foreign minister, Mahmoud al-Zahar, announced that Hamas and Egypt would cooperate in controlling the border without Israeli oversight. The border was closed, after 11 days, except for travelers returning home.



Tuesday, January 6, 2009

Saturday, December 27, 2008

Vacation in Paris

Inilah cerita pengalamanku jalan-jalan di Paris. Ceritanya sih mau lapor ke KBRI di Paris, bahwa kami (saya, della dan agi) adalah pelajar Indonesia yang sedang studi di Rennes Prancis. Selain lapor, dimanfaatkan saja sebagai kesempatan jalan-jalan. Kami bertiga berangkat jumat pagi menggunakan TGV ke Paris. Perjalannannya memakan waktu kira-kira 2 jam. Kami turun di Gare Montparnasse - Paris, kemudian membeli one day ticket untuk public transport di Paris. Sesampainya di KBRI, ternyata oh ternyata, KBRI sedang libur Lebaran. Kami pikir KBRI akan libur lebaran hanya pada hari Rabu dan Kamis. Ternyata libur diperpanjang sampai hari Jumat.
Setelah salat jumat di KBRI, kami memulai petualangan keliling kota Paris. Tempat pertama yang kami tuju adalah menara eiffel. Disini kami hanya melihat-lihat menara Eiffel dari bawah, disebabkan antrian menara eiffel yang sangat panjaaaang kala itu.











Hari pertama pun berakhir hanya dengan mengunjungi satu objek wisata. Malamnya, kami nginep gratisan di kostan Mas Aditya T, senior kami yang sekarang kuliah di Paris.
Perjalanan hari kedua dimulai dengan melihat-lihat area Notre Dame. Melihat arsitektur khas prancis serta taman-taman disekitarnya. Disini kami juga bermain dengan merpati-merpati.











Satu hal yang terlewat dari kunjungan kami ke Notre Dame adalah kami tidak berhasil menemukan point zero alias titik nol kota Paris. Konon katanya, kota paris di mulai dari situ. Menurut Madam Sri, guru les bhs Prancis di CCF Wijaya, point zero terletak di deket Notre Dame. Biasanya orang-orang berdiri di atas point zero tersebut dan kemudian berfoto ria.










Akhirnya kami hanya menelusuri sungai, melihat-lihat kapal dan seniman jalanan. Saat tiba di Musee de Luvre, kami lagi-lagi hanya mengamati arstiektur dan taman sekitar. Selain hemat tiket, kami juga melihat antrian panjang bak ular. Membuat malas ikut ngantri. Tak lupa kami berfoto ria di depan pyramid. Yang konon menurut novel da vinci code, di bawah pyramid tersebut...










Dari Musée du Louvre kami melanjutkan perjalanan menuju Arc De Triomphe. Sepanjang perjalanan, kami melewati banyak taman.










Juga ada Place de la Concorde. Nampaknya merupakan replika obeliks, tribute for arkeologi prancis yang pernah menelitinya. Setelah Place de la Concorde, kami menyusuri Aero Expo sepanjang perjalanan. Nampaknya sedang diadakan pameran dirgantara memperingati 100 tahun industri dirgantara prancis. Di hadirkan berbagai model dan replika dari industri dirgantara, baik untuk keperluan sipil maupun militer.










Tibalah kami di Arc De Triomphe. Ternyata dari Musée du Louvre sampai Arc De Triomphe tuh jauh juga. Lain kali lebih baik naik metro.











Setelah puas melihat-lihat di Arc de Triomphe, kami memutuskan untuk istirahat dan salat di La Grande Mosquée de Paris. Kami menggunakan metro untuk menuju kesana. Saat keluar dari halte metro, kami melewati Jardin de Plantes terlebih dahulu sebelum sampai di mesjid. Jardan de Plantes merupakan botanical garden di Paris. Cukup indah melihat aneka tanaman dengan bunga-bunganya.










Di La Grande Mosquée de Paris kami salat dan beristirahat. Lalu kami menikmati arsitektur mesjid yang dibuat khas maroko.










Perjalanan kemudian dilanjutkan untuk melihat menara Eiffel di malam hari. Yups, terang-benderang dengan tema warna biru dan bintang kala itu.















Hari ketiga dimulai dengan tujuan utama naik ke menera Eiffel. Kami datang cukup pagi, sehingga antrian belum panjang. Namun sayang, kondisi angin yang kencang membuat kami hanya sampai ke bagian tengah menara. Akses ke puncak menara ditutup kala itu.
Last but not least ada satu objek yang ingin ku kunjung yakni Museum Curie. Ketika sampai, ternyata museum sedang tutup. Akhirnya perjalanan 3 hari 2 malam di Paris berakhir. Dengan menyisakan beberapa rasa penasaran: Museum Curie, Puncak Eiffel, Point Zero. Next time maybe...