Monday, July 16, 2007

Miopia

Mata merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk melihat. Mata manusia memiliki mekanisme otomatis yang bekerja secara sempurna. Melalui mata, dunia dapat tervisualisasi sehingga manusia dapat melihat segala keindahan bentuk dan warna yang ada di dunia. Berbagai kelainan dan penyakit yang menyerang mata, tentu dapat membuat rasa tidak nyaman dan mengurangi kemampuan dalam merespon rangsangan cahaya.

Kemajuan teknologi telah membawa manusia dalam kehidupan yang lebih kompleks. Perubahan zaman yang terjadi tidak selamanya membawa pada kehidupan yang lebih baik. Berbagai masalah kesehatan yang tidak ditemukan pada tahun-tahun silam kini banyak yang bermunculan. Salah satu masalah kesehatan tersebut adalah miopia yakni ketidakmampuan mata untuk melihat objek secara jelas pada jarak jauh.

Dari tahun ke tahun, jumlah penderita miopia di seluruh dunia terus bertambah. Berbagai studi tentang miopia yang dilakukan terhadap anak-anak di seluruh dunia menunjukan hasil mencengangkan. Saat ini, tidak kurang dari 800 juta orang di dunia menderita miopia. Angka tertinggi penderita miopia umumnya ditemui di negara-negara asia yang maju. Sebuah penelitian menunjukan menuturkan bahwa tidak kurang dari 70% anak-anak di Singapura, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang yang menderita miopia .

Semakin banyaknya jumlah penderita miopia tentunya akan meningkatkan jumlah beban biaya untuk menanggulanginya. Setiap tahunnya, total biaya yang dikeluarkan untuk perawatan dan penanggulangan masalah miopia di Amerika Serikat mencapai 45 triliun rupiah.

Di Indonesia sendiri, fenomena miopia di masyarakat adalah ibarat gunung es. Saat ini, belum banyak penelitian yang membahas mengenai miopia baik dalam hal pola persebaran di masyarakat maupun upaya pencegahan dan perawatan miopia. Umumnya, masyarakat kurang peduli terhadap miopia karena menganggap bahwa penggunaan kacamata telah menjadi solusi. Tetapi pada dasarnya, kacamata merupakan solusi sementara karena si penderita dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya akan sangat bergantung pada alat tersebut. Hal ini tentu akan berpengaruh pada aspek sosial dan psikologis penderita.

Bila masalah miopia tidak segera diatasi, tidak menutup kemungkinan bila persebaran miopia di Indonesia akan segera bertambah. Bertambahnya jumlah penderita miopia ini tentunya akan menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Terdapat tiga alasan mengapa miopia menurunkan kualitas sumber daya manusia. Pertama, penderita miopia tidak dapat mengisi profesi-profesi yang menuntut kemampuan mata yang baik seperti pilot, militer dan polisi. Kedua, penderita miopia akan terganggu dalam menjalankan aktivitas kesehariannya karena harus bergantung pada kacamata atau lensa kontak sehingga waktu yang dimilikinya tidak dapat sepenuhnya efektif. Ketiga, penderita miopia lebih rentan terkena kebutaan.

(Dari berbagai sumber)

2 comments:

  1. tapi saya bersyukur masih bisa melihat :)...apakah ada penelitian tentang kesembuhan miopia...hmmm...mungkin di negara2 arab sana udah diteliti kali ya???

    ReplyDelete
  2. Kalau metode penyembuhan yg sudah terbukti secara medis tersembuhkan adalah metode LASIK. Tetapi bebrapa syarat dan ketentuan harus diperhatikan.

    Sedangkan penyembuhan lainnya. Masih sebatas testimonial. Konon katanya si "A", si "B" dll bisa tersembuhkan. Tetapi kita juga blm tau apakah mereka memang tersembuhkan ataukah hanya pengakuan utk menjual produk. Kita juga blm disediakan testimonial terhadap orang2 yang tidak berhasil menggunakan produk tersebut.

    ada situs yang bagus sebagai referensi yakni
    www.myopia-manual.de

    ReplyDelete

Please feel free to leave your comment. Do not include violence, adult content, spam message, racism in the comment. The comments will be soon published after the author of this blog makes the moderation. Thank you in advance for visiting this blog. Best regards from the author.