Showing posts with label IpTek. Show all posts
Showing posts with label IpTek. Show all posts

Monday, April 29, 2013

Bahaya Asbes

Mendengar kata “Asbes”, kebanyakan orang akan teringat pada Atap Asbes. Atap jenis ini cukup banyak digemari oleh orang2 indonesia sebagai atap terutama utk bangunan seperti rumah semi-permanen, garasi, warung/kios, pabrik dan lain sebagainya. Alasan murah dan ekonomis menjadi alasan utama mengapa atap jenis ini menjadi laris. Selain itu dibandingkan dengan atap seng (yang sama2 murah), atap asbes ini juga memiliki keunggulan relatif tidak menyerap panas, ringan, dan tidak berisik ketika hujan.



“Asbes” sendiri merupakan istilah pasar untuk bermacam-macam mineral yang dapat dipisah-pisahkan hingga menjadi serabut yang fleksibel. Berdasarkan komposisi mineralnya, asbes dapat digolongkan menjadi dua bagian. Golongan serpentin; yaitu mineral krisotil yang merupakan hidroksida magnesium silikat dengan komposisi Mg6(OH)6(Si4O11) H2O, Golongan amfibol; yaitu mineral krosidolit, antofilit, amosit, aktinolit dan tremolit. Yang banyak digunakan dalam industri adalah asbes jenis krisotil.


Selain kompisisi mineralnya, asbes memiliki perbedaan pada panjang “serat”nya. Serat yang panjang dan halus memiliki kegunaan yang berbeda. Umumnya kegunaan tersebut didasarkan pada kemampuan asbes utk di”pintal”.

Serat asbes yang dapat dipintal, umumnya digunakan untuk :
- Kopling, tirai dan layar, gasket, sarung tangan, kantong-kantong asbes, pelapis ketel uap, pelapis dinding, pakaian pemadam kebakaran, pelapis rem, ban mobil, bahan tekstil asbes, dan lain-lain.
- Alat pemadam api, benang asbes, pita, tali, alat penyam-bung pipa uap, alat listrik, alat kimia, gasket keperluan laboratorium, dan pelilit kawat listrik.



Sedangkan asbes yang tidak dapat dipintal digunakan untuk:
- Semen asbes untuk pelapis tanur dan ketel serta pipanya, dinding, lantai, alat-alat kimia dan listrik
- Asbes untuk atap;
- Kertas asbes untuk lantai dan atap, penutup pipa isolator-isolator panas dan listrik;
- Dinding-dinding asbes untuk rumah dan pabrik, macam-macam isolasi, gasket, ketel, dan tanur;
- Macam-macam bahan campuran lain yang menggunakan asbes sangat halus dan kebanyakan asbes sebagai bubur.


Bahaya Asbes
Dari sekian banyak kegunaannya, tahukah anda bahwa serat asbes merupakan bahan yang berbahaya? Dan mengapa?

Serat asbes umumnya berukuran 3 sampai 20 micron, sehingga tidak dapat terlihat secara kasat mata. Tetapi bila diperbesar melalui mikroskop electron, bentuk dari serat asbes adalah lancip dan tajam.


Partikel-partikel serat asbes tersebut sangat ringan dan dapat terbang diudara. Bila terhirup dan masuk ke dalam paru-paru maka tidak dapat keluar dari tubuh lagi. Hal ini dikarenakan serat asbes tersebut terjebak dan menempel pada organ paru-paru. Kemudian dikarenakan serat asbes adalah inorganic, ia tidak dapat larut/terurai keluar dari tubuh.

Serat asbes yang lancip/tajam dan terjebak di dalam paru-paru inilah yang berbahaya bagi kesehatan. Paru-paru kita mengembang dan mengempis ketika bernafas, pada saat itulah serat asbes yang lancip/tajam mengiris-iris bagian dalam paru-paru. Kemudian mengakibatkan luka pada paru-paru. Luka ini berkembang terus menjadi iritasi/luka yang lebih besar lagi dikarenakan ter-iris lagi ketika bernafas. Sampai ke berbagai macam penyakit lainnya seperti sesak nafas dan kanker.


Berikut beberapa contoh awal kasus dari orang orang2 yang terindikasi terkena penyakit yang terkait dengan asbes. Umumnya adalah pekerja di pabrik pengolahan asbes atau keluarga (anak) dari pekerja asbes yang tinggal dekat pabrik ataupun rumah/lingkungan yang penuh asbes. Berikut contoh dari Division of Occupational Safety & health (DOSH) Washington State Departement of Labor & Industries adalah kasus sesak nafas yang terjadi pada Joe Darabant dan tumor paru-paru pada Richard Pankowski


Lebih gawat lagi, sejauh ini belum ada cara untuk mendeteksi seberapa parah paru-paru kita terkontaminasi asbes. Foto rontgen terhadap paru-paru tidak dapat banyak membantu dikarenakan serat asbes yang berukuran micron. Kita hanya dapat menduga paru-paru terkena penyakit yang terkait asbes bila terjadi gejala sesak nafas dan orang tersebut tinggal di lingkungan yang banyak asbes.


Asbes di Dunia
Di negara-negara berkembang, asbes masih merupakan primadona sebagai aneka bahan baku industry. Indonesia sendiri pada 2010 merupakan negara konsumsi asbes nomor 5 terbesar di dunia setelah China (613,760 metric tons), India (426,363 metric tons), Russia (263,037 metric tons), Brazil (139,153 metric tons), dan Indonesia (111,848 metric tons).


Sebagai negara terbesar ke-5 di dunia dalam hal konsumsi asbes, kita dapat menemukan produk2 dengan bahan baku tersebut dimana-man. Yang kasat mata tentulah atap2 asbes, yang masih dijual secara bebas tanpa peringatan.



Tetapi terkadang dalam produk2 lainnya yang kita beli, sejauh ini tidak ada peringatan apakah produk yang kita beli tersebut mengandung asbes. Hal ini mungkin karena belum ada kesadaran dari masyarakat indonesia serta belum ada undang2 yang mengatur tentang asbes.

Berbeda dengan negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa Barat, zaman “kejayaan” asbes dimulai pada tahun 1900an dan berakhir pada awal 1980an. Kini negara2 tersebut (terutama Amerika) sedang mengalami masa2 kesulitan untuk membongkar dan membersihkan bahan2 asbes yang terutama berada di bangunan. Prosedur ketat pun diterapkan dalam membersihkan asbes, gedung2 tua tidak boleh begitu saja dihancurkan bila banyak mengandung asbes, karena dikhawatirkan debu2 serat asbes akan terbang dan membahayakan penduduk sekitar.



Prosedur ketat dilakukan terhadap pembongkaran rumah, gedung dan pabrik yang mengandung bahan asbes seperti “membungkus” dengan plastic dan disambungkan dengan pompa vakum agar debu2 asbes tersebut tidak terbang. Orang2 yang membersihkan gedung2 asbes pun diwajibkan menggunakan baju “astronot” agar tidak membahayakan pekerja tersebut.



Penutup
Pelarangan asbes di indonesia nampaknya masih jauh. Keuntungan ekonomi jangka dekat (murah) dari penjual maupun pembeli/pengguna-nya merupakan alasan utama. Tetapi bila anda mencintai kesehatan anda dan keluarga anda, penulis sarankan untuk jauhi penggunaan asbes. Ya, kesehatan memang mahal.


Sumber:
http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Asbes/ulasan.asp?xdir=Asbes&commId=1&comm=Asbes
http://en.wikipedia.org/wiki/Asbestos
http://www.asbestosguru-oberta.com
- Division of Occupational Safety & health (DOSH) Washington State Departement of Labor & Industries
- mbah gugel
- dll

Thursday, April 11, 2013

Mengenal Geothermal

Setelah dulu Indonesia menikmati kejayaan pemenuhan energy dari minyak dan kini oleh gas alam. Ada baiknya kita pikirkan sumber energy selanjutnya. Selain potensi batu bara, menurut penulis sumber geothermal adalah sumber energy yang selanjutnya siap untuk di panen.

Geothermal berasal dari dua kata yakni geo dan thermal. Yang secara sederhana artinya geo = bumi dan thermal = panas (Panas Bumi). Energi panas bumi tersebut nantinya kita konversi ke energy listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).


Menilik pelajaran IPA, suhu dalam inti bumi panas dan secara gradual mendingin ketika mendekati kulit terluarnya. Panas dalam inti bumi ini dapat menyebabkan bebatuan “meleleh” dan biasa kita sebut dengan magma.

Karena panas bumi tersebut berada di kedalaman bumi, kita harus melakukan pengeboran ke dalam bumi. Agar pengeboran tersebut tidak terlalu dalam (bila terlalu dalam menjadi mahal), kita lakukan pengeboran tersebut di daerah2 yang panas buminya tidak terlalu dalam.


Biasanya daerah tersebut berada dikawasan “ring of fire”, dicirikan dengan banyaknya gunung berapi geyser dll.


Indonesia sendiri memiliki potensi energy panas bumi yang sangat besar. Konon mencapai 40% potensi panas bumi yang ada di dunia.


Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP)Secara sederhana, cara kerja Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi adalah: Energi panas bumi dialirkan dalam bentuk uap (steam) untuk menggerakan steam turbin yang nantinya menghasilkan listrik. Setelah menggerakan turbin, uap tersebut terkondensasi dan kemudian dimasukan (diinjeksi) kembali ke dalam perut bumi melalui sumur injeksi brine.


Secara lokasi, PLTP ini umumnya dibagi menjadi 3 bagian yakni: (1) area sumber sumur uap, (2) area pembangkit listrik, (3) area sumur injeksi brine. Diantara ketiga lokasi tersebut dihubungkan dengan pemipaan panjang (pipeline). Karena umumnya terletak di pegunungan, lokasi sumur uap tersebut berada di daerah yang lebih tinggi. Sehingga uap akan dialirkan ke lokasi pembangkit dengan memanfaatkan gravitasi.  Kemudian setelah uap tersebut terkondenasi menjadi air (biasanya disebut brine), brine tersbut dialirkan ke sumur reinjeksi brine letaknya lebih rendah dari area pembangkit. Hal ini sama agar dapat memanfaatkan gravitasi utk mengalirkan brine sebelum di injeksi kedalam bumi kembali.


Penulis akan menulis lebih mendalam (tapi sederhana), tentang beberapa komponen penting dalam mendesain PLTP. Umumnya secara desain, geothermal ini memliki beberapa persaman dengan CPP di oil and gas.

Pertama adalah “sumur uap”.  Biasaya beberapa sumur uap tersebut dikumpulkan dalam sebuah cluster. Dimana dalam satu PLTP, dapat memiliki beberapa cluster sumur uap. Sumur uap tersebut dihasilkan melalui pengeboran rig. Dimana setelah selesai dibor maka masing2 sumur tersebut akan dipasang choke valve.


Uap yang mengalir dalam coke valve tersebut kemudian akan dikumpulkan dalam manifold dan dialirkan ke separator. Diamana dalam separator/scrubber tersebut, steam, brine dan lumpur akan dipisahkan. Steam kemudian dialirkan ke area pembangkit melalui pipeline. Sedangkan brine dan lumpur dikumpulkan dalam pond yang akan kemudian biasanya akan dialirkan ke sumur reinjeksi.

Beberapa fitur lainnya yang biasanya ada di cluster sumur tersebut adalah Rock Muffler dan Silencer. Dikarenakan tekanan sumur yang berubah-ubah. Bila terjadi tekanan berlebih (over-pressure), maka tekanan belebih tersebut dialirkan ke rock muffler (Fungsinya mirip dengan flare & KO drum).  Rock muffler ini dapat terbuat dari steel maupun concrete. Sedangkan silencer digunakan untuk menurunkan nilai desible dari kebisingan yang dihasilkan.

Steam/uap yang dialirkan dari area cluster sumur uap ke area pembangkit dilakukan melalui pipeline yang panjangnya lebih dari ratusan meter mengikuti kontur tanahnya. Pipeline tersebut dibungkus oleh insulasi agar energy panasnya tidak mengalir keluar. Insulasi yang digunakan umumnya adalah rockwool. Dikarenakan pipeline tersebut di-insulasi, maka pipeline tersebut diletakan diatas tanah above ground.


Walau demikian, dalam perjalanannya, beberapa uap air terebut dapat terkondensasi menjadi brine. Sehingga agar tetap menjaga kering, brine tersebut di buang melalui drainpot.  Drainpot ini adalah “pengumpul” yang berada dibawah pipeline dan dilengkapi dengan steam trap. Steam trap yang digunakan dalam geothermal umunya adalah jenis thermodynamic.

Setelah pipeline dari suatu cluster sumur uap tersebut sampai pada area pembangkit. Mereka dimasukan kedalam manifold yang mengabungkan dengan uap dari beberapa cluster lainnya. Dimanifold tersebut, uap kembali di”keringkan” sebelum menggerakan steam turbine. Turbine ini kemudian menggerakan “motor”. Dimana motor tersebut akan menghasilkan listrik yang kemudian dialirkan ke trafo dan SUTET utk didistribusikan ke listrik konsumen.


Proses PLTP seperti ini disebut dengan “Dry Steam System”. Merupakan proses yang paling murah serta paling banyak digunakan.


Selain proses “Dry Steam System”, terdapat juga proses “Flash Steam System” dimana pressure di”mainkan”. Proses ini cocok untuk sumur2 yang sulit menghasilkan dry steam.


Sedangkan proses Binary Cycle, adalah generasi terbaru dimana panas di uap air di transfer (melalui heat exchanger) untuk “menguapkan” fluida lain yang memliki titik didih yang lebih rendah dari pada air (seperti ammonia, buthane, pentane dll). Fluida inilah yang nantinya menggerakan turbin pembangkin listrik


Brine (kondensasi) air yang dihasilkan dari serangkai proses diatas ditampung dalam sebuah pond dan kemudian nantinya dialirkan (melalui pipeline) masuk ke dalam bumi kembali ke sumur reinjeksi. Hal ini dlakukan untuk menjaga ketersediaan uap air di disekitar sumur2 uap. Dan juga umumnya brine ini mengandung beberapa kandungan berbahaya bagi lingkungan seperti sulfur, arsenic, mercury dll  sehingga tidak bisa langsung dibuang ke lingkungan sekitar. Berbeda dengan steam pipeline, brine pipeline ini dapat dikubur di dalam tanah.


Safety & Enviroment
Lokasi geothermal yang berada di pegunungan dan hutan. Umumnya membuat sebagian orang menjadi merasa sedang ber”wisata”. Tetapi beberapa walau demikian safety haruslah utama dalam menjaga kesalamatan anda di PLTP. Beberapa safety utama yang harus anda perhatikan diantaranya.

Bahaya pertama yang harus waspadai adalah panas. Jangan langsung menyentuh peralatan yang ada disana dengan tangan. Dikhawatirkan peralatan tersebut dalam kondisi panas (namanya juga panas bumi). Gunakan peralatan sarung tangan dsb ketika hendak menyentuh sesuatu.

Kedua adalah bahaya dari gas beracun seperti H2S, CO2 dan lain sebagainya. Seperti halnya kita mewaspadi bahaya gas beracun dari gunung berapi. Sedikan detector gas, yang dapat memberitahukan kondisi keamanan udara disekitar lokasi geothermal. Jangan sampai anda "klepek-klepek" karena kehabisan oksigen.

Ketiga adalah bahaya dari kandungan zat2 beracun dari brine seperti sulphur, arsenic, radon, boron, mercury dll. Tidak boleh dibuang langsung ke lingkungan.

Keempat, Patuhi segala peraturan keselamatan lainnya yang ada dilokasi PLTP. Seperti helmet, safety shoes dll.

Bisnis Geothermal
Beberapa perusahan di Indonesia yang sudah aktif di bidang geothermal antara lain: Chevron, Pertamina Geothermal, Geo Dipa dll. Dari model usaha ada yang mengelola dari sumur uap ke PLTP-nya oleh satu perusahaan. Ada pula perusahaan “A” mengelola sumur uap kemudian perusahaan “B” mengelola pembangkitnya. Kemudian listrik yang dihasilkan dari PLTP itu di jual ke PLN

Beberapa komponen terbesar dalam CAPEX geothermal adalah: (1) Drilling Sumur, (2) Steam Turbine, (3) Pipeline, (4) Pembebasan lahan, site preparation & akses jalan, (5) Peralatan lainnya seperti (trafo, separator/scrubber, muffler.

Tantangan
Dalam sebuah proyek geothermal beberapa resiko, tantangan dan hal2 lain-nya yang harus diperhatikan:

Pertama, Konon resiko dan dan yang terbesar adalah pada fase explorasi atau pengeboran sumur2 uap. Dikarenakan penulis bukan orang sub surface (drilling, geologi dll). Penulis juga belum tau kendala kesulitannya secara persis seperti apa.

Kedua, kendala biasanya adalah masalah AMDAL. Dimana umumnya letak2 potensi geothermal berada dalam kawasan konvservasi atau hutan lindung.

Ketiga, lokasi PLTP yang umumnya di hutan dan pegunungan memiliki tantangan tersendiri. Seperti harus membuka akses jalan baru. Hutan dan gunung yang lembab, sering hujan, sering berkabut membuat fase konstruksi akan terganggu (terutama utk pengerjaan pengelasan/welding).

Keempat. Lokasi PLTP yang tersebar dengan cluster sumurnya dan pipeline yang diatas tanah. Memiliki tantangan dalam hal pengamanan-nya. Sebagai contoh dimana plat2 insulasi yang terbuat dari aluminum cukup menggiurkan bagi sebagian orang untuk mencurinya.

Penutup
Penguasaan teknologi, penumbuhan iklim investasi serta perundangan/perijinan di sektor geothermal harus mulai di kita jadikan concern dari sekarang. Mengingat geothermal merupakan energy masa depan Indonesia.

Sumber
http://www.bbc.co.uk/schools/gcsebitesize/science/aqa/mains/generatingelectricityrev5.shtml
http://energyalmanac.ca.gov/renewables/geothermal/types.html
http://www.mpoweruk.com/geothermal_energy.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Ring_of_Fire
http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/07/kesiapan-indonesia-manfaatkan-potensi-geothermal-dipertanyakan
http://www.esdm.go.id/berita/panas-bumi/45-panasbumi/3281-potensi-geothermal-dunia-setara-40000-gw.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Geothermal_energy
http://www.curriculumsupport.education.nsw.gov.au/electricity/students/dictionary.htm
http://www.treehugger.com/renewable-energy/enhanced-geothermal-systems-research-awarded-431-million-by-us-department-of-energy.html
http://dchandra.geosyndicate.com/news/?cat=1
dan lain sebagainya

Wednesday, November 7, 2012

Gado-Gado Roadmap Energi Otomotif

Gado-gado merupakan salah satu makanan tradisional bangsa indonesia. Berbagai sayuran dicampur satu, diaduk dengan bumbu kacang yang nan sedap. Ngebuat ngiler perut kita.

Yang jadi pusing adalah ketika kebijakan pemerintah dicampur ala gado2. Salah satunya adalah Roadmap Energi otomotif.

Membaca berbagai pemberitaan ttg dunia otomotif, setidaknya ada beberapa arah kebijakan yang hendak diambil.
1. Konversi BBM ke Gas
2. Konversi BBM ke Listrik
3. Low cost green car
4. Konvensional tetapi produk Nasional (Esemka)

Bahkan masing2 telah ada yang direncanakan anggarannya. Intinya sih jangan sampai ada uang yang terbuang sia2. Semisal bikin SPBG, ternyata belum Break Even Point sudah beralih ke Listrik. Atau beli LCGC tetapi beberapa bulan kemudian harus konversi ke BBG dgn beli konverter kit dan tabung CNG. Apa mau dikata mungkin negeri ini seneng dengan yang heboh2an. Lagi heboh A, semua ikut kebijakan A. Kemudian tiba2 ada si B, beralih ke B.

Yang paling penting ketika hendak mengambil kebijakan telah di lakukan Feasibility Study yang matang. Kemduian dilakukan Pendidikan ke Pejabat dan Masayarakat ttg teknologi terbaru itu, plus dan minusnya.

Semisal contohnya bila hendak menggunakan opsi BBG. Jangan sampai ada kejadian2 ledakan seperti saat introduce tabung LPG. Masayarakat dan pemerintah harus dipahami betul gas yang digunakan utk BBG apa (CNG atau LPG), jenis2 tabung, jenis2 konverter, safetynya bagaimana dll.

Saya pernah datang ke seminar CNG yang diselenggarakan oleh organisasi international NGV (Natural Gas Vehicel) Transportation. Disana dihadirkan para pakar2 yang sudah experience dalam menyelenggarakan konversi ke BBG dari Qatar, Malayssia, Thailand, Singapore. Banyak lesson learn yang dapat diambil. Contoh2 cerita yang unik dari pengalaaman mereka. Seperti kadang ada masyarakat yang "kreatif" menggunakan tabung aceteline dan LPG utk tabung gas CNG. Tentunya duer meledug. Dan berbagai cerita lainnya. Intinya persiapan edukasi ke masyarakat harus maksimal.Kemudian dishare juga mengenai cara pemberian insentif dll agar masyarakat mau beralih. Sayangnya pada seminar tersebut nampaknya minim perhatian dari para pejabat dan otoritas terkait.

Ya kita lihat dan kita tunggu. Kemana republik ini akan mengarah. Moga2 tidak mengarah ke proyek2 yang in-efisien. Sayang banget klo duit hasil pajak dan hasil mengeruk kekayaan bumi ini terbuang sia2.




Monday, October 22, 2007

Sistem Penanggalan

Sistem penanggalan telah dikenal oleh umat manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Umumnya peradaban zaman dahulu menggunakan tanda-tanda benda di langit (matahari, bulan dan bintang untuk menentukan pergantian musim. Hal tersebut sangat berguna untuk menentukan siklus bercocok tanam, pergi melaut, musim berburu, musim banjir dan lain sebagainya. Bagi umat beragama tertentu, fungsi penanggalan merupakan hal yang tak dapat dipisahkan. Perayaan hari raya ditentukan berdasarkan sistem penanggalan yang mereka yakini.


Sistem penanggalan ini kemungkinan besar muncul dan diketahui oleh umat manusia zaman dahulu ketika mereka menyadari bahwa pergerakan matahari atau bulan memiliki siklus tersendiri. Sebagai contoh adalah menghitung pergantian antara musim hujan dan kemarau dengan mengamati jumlah kemunculan bulan purnama.


Sejak zaman peradaban kuno (mesir, babilonia, yunani, cina, maya dll) sistem penanggalan mengalami banyak perbaikan dan koreksi hingga zaman kini. Secara garis besar, penanggalan dapat di bagi menjadi tiga macam; yakni: (1) Solar (matahari), (2) Lunar (bulan) dan (3) Luni-Solar (bulan- matahari).


Penanggalan atau kalendar solar merupakan sistem penanggalan yang didasarkan pada pengamatan terhadap matahari. Sistem penanggalan ini dihitung berdasarkan revolusi bumi terhadap matahari (gerak bumi pada orbitnya dalam mengelilingi matahari). Tiap siklus revolusi bumi terhadap matahari ditetapkan sebagai satu tahun. Contoh dari kalendar solar adalah kalanedar masehi. Satu tahun dalam kalendar solar adalah 365¼ hari. Dalam pelaksanaannya, tiap tahun dibulatkan menjadi 365 hari dengan pengecualian tiap empat tahun (tahun kabisat) menjadi 366 hari.


Penanggalan atau kalendar lunar merupakan sistem penanggalan yang didasarkan pada pengamatan terhadap bulan. Sistem penanggalan ini dihitung berdasarkan revolusi bulan terhadap bumi (gerak bulan pada orbitnya dalam mengelilingi bumi). Tiap siklus revolusi bulan terhadap bumi ditetapkan sebagai satu bulan. Contoh dari kalendar lunar adalah kalanedar hijriah. Lamanya satu bulan dalam kalendar lunar adalah lebih besar dari 29 hari dan lebih kecil dari 30 hari {29 hari < hari =" 24">


Penanggalan atau kalendar luni-solar merupakan sistem penanggalan yang didasarkan pada pergerakan bulan dan matahari. Revolusi bumi dijadikan patokan untuk satu tahun dan revolusi bulan dijadikan patokan untuk satu bulan. Mengingat jumlah hari dalam satu tahun yang berbeda antara kalendar solar (365¼ hari) dan lunar (354 hari), maka ditambahkan beberapa hari tertentu diselang bulan-bulan yang ada. Contoh dari kalendar luni-solar adalah kalendar yahudi dan cina kuno.

Study of Calcium Phosphate Bioceramics Powders Syntheszied via Biomimetic Process

The need of better and faster healing method for patients has increase the demand of biomaterial in the biomedical field. One type of the biomaterial that interested scientist and clinician to be study and developed are synthetic “Calcium Phosphate” based bioceramics. As we know, calcium and phosphate are the main element of the human hard tissue mineral.

The most widely used calcium phosphate based bioceramics are hydroxyapatite [HA, Ca10(PO4)6(OH)2], β-tricalcium phosphate [β-TCP, Ca3(PO4)2] and biphasic mixtures of these two. In the present time, synthetic calcium phosphate bioceramics are widely used in the area of orthopedic, dentistry and drug delivery. Further research shown that calcium phosphate bioceramics are possible to be use as ocular implant and also genetic therapy for certain types of tumors/cancers.

Considering the numerous applications of calcium phosphate bioceramics in biomedical fields, various synthesis techniques have been developed. Calcium phosphate bioceramics have been synthesized using several methods including the wet chemical precipitation, sol-gel, solid state reaction and hydrothermal method. Their presences are in the form of powders, granules, foams, dense and porous blocks, coating, cement, also various composites.

Another possible technique to synthesize calcium phosphate bioceramics is the biomimetic (bio=life, mimetic=mimicking) method. In this method, calcium phosphate based bioceramics are precipitated in mimicking the condition of the physiological environment of the human body. The media use for the precipitation is simulated body fluid (SBF), an inorganic solution with ion concentrations and a pH value similar to human blood plasma. Some study of this method reported that this technique is successful in synthesizing calcium phosphate bioceramics powders which are similar with those in the human bone.

(Taken from introduction of Undergraduate Thesis of Weko Abhinimpuno)

Friday, August 10, 2007

Potensi Bahan Baku Alternatif untuk Kertas di Indonesia

Kertas adalah bagian yang tak terpisahkan dari peradaban manusia. Maka tak heran bila industri kertas dan pulp (bubur kertas) adalah salah satu sektor yang tingkat pertumbuhannya pesat, baik di Indonesia maupun di dunia. Saat ini, produksi kertas Indonesia menduduki peringkat ke-12 dunia, dengan pangsa 2,2% dari total produksi dunia yang mencapai 318,2 juta ton per tahun (www.wartaekonomi.com). Di tahun 2010, kebutuhan proyeksi kertas dunia diperkirakan akan naik sampai 425 juta ton per tahun (Hurter, 1998). Sehingga pada empat tahun mendatang, di seluruh dunia akan membutuhkan tambahan produksi kertas sebanyak lebih dari 100 juta ton per tahun. Di Indonesia sendiri, kapasitas, produksi dan konsumsi kertas terus meningkat setiap tahunnya.

Tingginya kebutuhan kertas tersebut tentunya harus diimbangi oleh ketersediaan bahan baku. Hutan Tanam Industri (HTI), yang direncanakan oleh pemerintah Indonesia sebagai penyedia bahan baku bagi industri berbasiskan kayu (termasuk bagi industri kertas), saat ini belum mampu untuk menyuplai seluruh kebutuhan kayu bagi industri di Indonesia. Untuk mengatasi kelangkaan bahan baku ini, banyak perusahaan yang berupaya memperoleh bahan baku melalui pasar gelap (illegal logging). Fenomena tersebut dapat terlihat dari data-data suplai kayu untuk industri kertas dan pulp. Menurut catatan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), selama satu dasawarsa, 1988-1999, industri kertas dan pulp nasional mendapat pasokan 100 juta meter kubik kayu sebagai bahan mentah. Ternyata dari jumlah itu, yang berasal dari HTI hanya berjumlah 8 persen (www.suarakarya-online.com, 5 Juli 2006). Sisanya, 92 persen adalah kayu ilegal. Ini berarti sebagian besar dari bahan baku untuk industri kertas dan pulp merupakan hasil illegal logging. Sehingga tak heran bila laporan Departemen Kehutanan (Dephut) tahun 2000 menyebutkan laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai 1,6 juta hektar per tahun, pada periode 2001-2004 meningkat menjadi 3,6 juta hektar per tahun (www.kompas.com, 26 November 2006). Selain itu, kebutuhan kertas dunia yang terus meningkat dari tahun ke tahun tentunya akan meningkatkan laju perusakan hutan. Hal tersebutlah yang mendorong berbagai upaya-upaya dalam pengembangan teknologi kertas berbahan baku non kayu.

Peluang yang dapat dimanfaatkan oleh industri kertas di Indonesia adalah sektor produksi kertas dengan bahan baku non-kayu hasil limbah agraria. Salah satu limbah agraria yang dapat menjadi alternatif bahan baku kertas di Indonesia adalah ampas tebu. Pilihan ini didasari atas tiga hal: pertama, ampas tebu dapat dijadikan kertas; kedua, ampas tebu belum termanfaatkan secara optimal; ketiga, Indonesia sendiri memiliki potensi lahan tebu yang sangat besar. Pada tahun 2004 terdapat sekitar 321.530 lahan perkebunan tebu di Indonesia.

Tiga hal tersebut membuka peluang pengembangan penggunaan alternatif bahan baku non kayu untuk industri kertas di Indonesia sehingga diharapkan dapat mengurangi laju kerusakan hutan.

Tebu adalah bahan baku utama dalam pembuatan gula di Indonesia. Ampas tebu sendiri dikategorikan sebagai limbah padat dari industri gula yang bersifat kamba (tidak padat). Dalam proses produksi di pabrik gula, ampas tebu dihasilkan sebesar 90% dari setiap tebu yang diproses, gula yang termanfaatkan hanya 5%, sisanya berupa tetes tebu (molase) dan air. Diperkirakan, setiap satu hektar perkebunan tebu mampu menghasilkan 100 ton ampas tebu. Ampas tebu dapat dijadikan sebagai bahan baku kertas karena mengandung serat selulosa.

(dari berbagai sumber)