Showing posts with label Kajian. Show all posts
Showing posts with label Kajian. Show all posts

Monday, April 22, 2013

Ujian Nasional, Negeri Pilihan Ganda & Esensi Pendidikan


Ujian nasional 2013 telah menjadi ajang “stress masal” bagi bangsa Indonesia. Dimulai dari murid, orang tua, guru, kepala sekolah, sampai ke level menteri-nya. Semuanya was-was, cemas, stress, tegang menantikan hasil kelulusan. Ini semua bermula dari “visi” menyelenggarakan sebuah ujian dari sabang sampai merauke yang nantinya menentukan kelulusan dengan parameter yang seragam.

Kita semua setuju bahwa dalam suatu proses (dalam hal ini pendidikan), haruslah ada prosess evaluasinya. Dari evaluasi ini, kita bisa melihat sejauh mana keberhasilan peserta didik (siswa) dalam menyerap pelajaran. Evaluasi ini bisa dengan bermacam metode seperti ujian tertulis, ujian lisan, ujian praktek, pengamatan guru dan lain sebagainya.

Permasalahan pertama muncul ketika ujian ini harus dilakukan secara “Nasional”. Indonesia sebagai negara luas, geograifs kepulauan, budaya berbeda dan tingkat infrastruktur yang berbeda. Ketika parameter kelulusan harus diseragamkan secara nasional tidaklah adil dan tidak bermanfaat. Hal ini dikarenakan kebutuhan Sumber Daya Manusia untuk mengolah Sumber Daya Alam-nya di tiap daerah berbeda. Di perkotaan besar, di daerah agraris, di daerah kelautan, semuanya memiliki tuntutan SDM yang unik dan khas. Di daerah agraris misalnya membutuhkan lulusan yang memahami cara2 pertanian. Di kelautan membutuhkan orang yang memahami cuaca, navigasi kelautan dll. Sehingga kebutuhan kurikulum dan bahan ajarnya berbeda tiap daerah.

Selain itu Ujian secara Nasional ini memicu ketidak adilan. Semisal siswa2 dari daerah terpencil minim infrastruktur harus bersaing dengan siswa kota2 besar. Yang didaerah terpencil mungkin ketika musim panen harus “libur” membantu panen orang tua. Sedangkan di kota besar biasanya dijejali soal2 dan PR di sekolah dan bimbel. Bahkan seringkali libur pun tetap dijejali oleh soal2 PR atau tugas. Karena umumnya parameter kelulusannya seputar menjawab soal matematika, bahasa inggris dll. Padahal klo parameter kelulusannya adalah cara menanam padi, siswa dari daerah mungkin nilainya jauh lebih tinggi dari pada yang dari perkotaan.

Lalu bila kurikulum dan bahan ajar berbeda di tiap daerah, bagaimana misal seorang siswa dari daerah A pindah ke daerah B? Tinggal adakan saja “ujian masuk” bagi siswa yang hendak pindah sekolah dari daerah lain. Ujian masuk ini bisa diserahkan ke masing2 sekolah atau dinas pendidikan daerah utk mengadakan bagaimana cara teknisnya dan parameter penilaiannya. Apakah itu melalui ujian tertulis, ujian lisan, ujian praktek, psikotes, besarnya sumbangan orang tua dll. Karena masing2 sekolah atau dinas pendidikan daerah yang lebih mengetahui parameter evaluasi yang dibutuhkan sehingga siswa yang pindah dari daerah lain dapat mengikuti pelajaran di sekolahnya. Sehingga “ujian nasional” ini dibebankan kepada orang yang pindah sekolah secara nasional (antar daerah). Bukan kepada semua siswanya (yang seperti saat ini).

Jangankan antara propinsi/kota/kabupaten, antar Negara pun( yang kurikulumnya, bahan ajar dan bahasa pengantar daerah sudah jelas2 berbeda) bisa diselesaikan. Kalau mau sekolah diluar negeri (terutama S2),biasanya ada persyaratan “penyetaraan” dimana kita di haruskan ikut TOEFL/IELTS utk bahasa inggris atau test SAT dll. Sehingga depdiknas atau dinas daerah membuat semacam “TOEFL” bagi siswa2 yang mau pindah sekolah lintas daerah. Misal di Jakarta utk level SMA “TOEFL”nya harus score 500.


Negeri Pilihan Ganda (PG)

Lalu berpindah ke jenis test UN yang umumnya tes tertulis dan pilihan ganda (PG). Keunggulan dari PG adalah menghapus subjetifitas dari penilai. Bila jawaban yang benar adalah A, ya A, klo jawab B berarti salah. Selain itu, PG salah satu metode memeriksa banyak soal dalam waktu yang singkat. Berbeda dengan soal2 esai yang terkadang subjetifitas si pemeriksa soal bermain (klo lagi moodnya bagus ngasih nilai bagus dan sebaliknya.

Berdasar pengalaman pribadi penulis, penilaian ujian sekolah yang banyak PG. Menimbulkan “mental instan” terutama disebagian kalangan murid (seperti penulis sendiri, sedikit curcol hehehe). Bagi yang cerdik, soal PG dijadikan ajang spekulasi bila kondisi sudah mepet. Ketika tidak tahu jawaban yang benar, cari jawaban yang salah. Jawaban yang gak salah, berarti adalah jawaban yang benar. Kemudian di matematika, jawaban dimasukan ke rumus soalnya dll. Hal ini menimbulkan mental mengakali soal daripada menjawab soal. Praktikum pun kadang jadi malas, toh ujung2nya nanti ujian sekolah adalah pilihan ganda.

Pernah penulis di tingkat2 akhir SMA, mempertanyakan selama ini esensi belajar di sekolah itu untuk apa? Karena sewaktu itu, penulis hanya merasakan hanya jago menjawab pilihan ganda saja. Dulu penulis (sewaktu masih pelajar) sempat memiliki mindset bahwa untuk bisa masuk ke sekolah unggulan itu melalui dua cara. Cara pertama, orang tuanya harus kaya sehingga bisa memberi “uang bangunan” yang besar ke sekolah. Cara kedua, harus jago menyelesaikan soal pilihan ganda. Jago pilihan ganda ini ada beberapa jenis: memang pintar, jago mengakali soal, jago nyontek, atau seseorang yang emang memiliki “Hoki” besar. Kadang orang yang pintar pun klo di lambat mengisi PG, dia bisa terlibas oleh orang cerdik yang menggunakan strategi seperti jangan terpaku pada satu soal yang sulit dan menyita waktu lama dll.

Dan ternyata hidup itu bukan sekedar pilihan ganda. Penulis sempat mengalami kesulitan dengan soal2 kuliah yang lebih mengedepankan utk menjelaskan, tugas2 laporan, praktikum dll. Bahkan setelah saya lulus kuliah, segalanya menjadi terang benderang, bahwa permasalahan hidup tidak bisa diselesaikan melalui pilihan ganda.


Padatnya Pelajaran

Beralih ke bahan ajar, sekarang ini terasa bahwa bahan ajar (terutama di kota2 besar) sangatlah padat dari tahun ke tahun. Klo sempat baca2 buku pelajaran sekarang, rasa2nya yang dulu pelajaran tersebut saya dapatkan di SMP, tapi sekarang rasanya sudah diajarkan di SD. Padahal dulu jaman SMP pun cukup sulit, apalagi sekarang yang harus dipelajari di SD. Saya inget dulu waktu SMP dan SMA (di bandung), materi yang ada di buku pelajaran pegangan dari departemen pendidikan “terlalu simple”. Sehingga guru2 lebih memilih untuk buku pelajaran dari penerbit swasta, yang isi bobot bahan ajarnya lebih mendalam.

Mungkin ini semua bermula dari ketika ujian, semua orang (guru, orang tua, penerbit dll) belomba utk mendapatkan nilai tinggi (melalui les tambahan, buku baru dll). Ketika murid2 tersebut mendapat nilai tinggi, akhirnya mungkin yang membuat bahan ajar (dinas pendidikan), “menaikan/menambah” standar bobot pelajaran. Kemudian siklus berulang dengan guru, penerbit, bimbel dan orang tua yang men-drill para murid agar bisa mendapat nilai tinggi. Setelah berhasil mendapat nilai tinggi, berulang lagi dinas pendidikan menaikan standard. Ujung2nya generasi dibawahnya merasakan beban belajar yang lebih berat. Para murid beban secara stress berlebih, beban terhadap buku2 pelajaran yang berat dan padat, waktu bermain kurang dan lain sebagainya. Orang tua pun “tergerus” dengan biaya mahal buku pelajaran, tambahan les dll. Sebuah siklus yang tak henti-hentinya. Para guru pun kelabakan untuk mengejar bahan aja yang padat.


Esensi Pendidikan

Mengurai tentang makna esensi pendidikan mungkin terlalu berat utk diulas oleh penulis yang bukan seorang filosof. Tetapi melihat kejanggalan-kejanggalan di negeri ini, apakah esensi pendidikan sudah berhasil? Beberapa contoh kasus mungkin bisamenjadi renungan.

Pertama, ketika negeri ini sering dilanda banjir dan longsor. Apakah tidak ada pelajaran yang mengajarkan kalau buang sampah sembarangan dapat menyumpat saluran air. Bahwa ketika pohon2 ditebang dapat menyebabkan longsor. Ketika hutan diganti dengan beton, sulit untuk meresap air.

Kedua, ketika negeri ini banyak yang tertipu oleh investasi priamida, investasi bodong, forex dll. Apakah tidak ada pelajaran matematika dan ekonomi, bahwa mendapatkan keuntungan yang bombastis bin fantastis itu too good to be true. Apakah tidak ada pelajaran sejarah, bahwa penipuan ini sudah berulang-ulang-ulang-ulang terjadi. Dari mulai zaman ponzi, QSAR, koperasi langit biru, emas bodong dll. Bukti ketika pelajaran sejarah itu hanya hafalan tanggal, nama dan tempat, tanpa menganalisis makna dibalik sejarah tersebut.

Ketiga, ketika orang2 mempunyai uang yang pas2an. Rata2 orang Indonesia lebih senang “membakar” uang tersebut dan dihisap asapnya, daripada dibelikan makanan yang bergizi atau buku pelajaran untuk anaknya.

Keempat, ketika setelah selesai UN. Banyak siswa yang malah tawuran dan corat-coret. Kelima, Ketika, kasus penipuan blue energy Joko suprapto. Apakah gak diajarkan fisika? Keenam, tiadanya budaya antri. Ketujuh-kedelapan dan seterusnya.

Menurut penulis, setidaknya bangsa ini memandang pendidikan itu untuk mengejar strata sosial ikut andil dalam kesemerawutan dunia pendidikan. Kita lihat di undangan nikah atau sunat, gelar pendidikan dipampang di kartu undangan (ini mau nikahan atau mau ngadain konferensi ilmiah). Mungkin peralihan dari budaya masa lampau kalau dulu orang2 bangga pakai gelar Raden (sekarang mungkin dianggap sudah kuno). Padahal kalau kita membaca nama peneliti di jurnal paper luar negri, belum tentu (kebanyakan) tidak menyebutkan gelar2an. Jadi paper dinilai oleh kedalaman isi dari penelitian bukan dari gelarnya si peneliti.


Solusi Edan-Eling

Di jaman edan (gila), orang eling(waras)-lah yang dianggap edan (gila). Ketika dunia pendidikan sudah carut-marut, apakah kita ikut bercarut-marut ria? Keberanian menentang mainstream, keberanian untuk think out of the box diperlukan. Syukur-syukur kalau bangsa Indonesia mendapatkan mentri yang berani berkata stop pada rantai kesemerawutan pendidikan. Tapi kalau tidak mendapatkan menteri seperti itu, minimal kita2 adalah agen perubahan untuk keluarga/anak masing2.

Jangan biarkan anak kita (seperti halnya anak orang2 lain) terlalu banyak diberi beban (stress) di drill pelajaran2 yang padat. Ke sekolah macet2an, pulang sekolah macet2an ke tempat les. Nyampe rumah tinggal capek. Pelajaran menjadi suatu mimpi buruk bagi siswa, hanya merupakan hafalan2. Anak berkompetisi OK, tetapi yang wajar saja. Gak perlu membebani anak untuk lulus ujian nasional, karena takut jadi omongan tetangga dll, sehingga klo gak lulus serasa dunia ini runtuh.

Jangan biarkan juga kita menganggap bahwa pendidikan adalah hanya di sekolah (formal). Di rumah pun adalah sarana pendidikan. Mulai dari anak belajar mandiri, belajar budi pekerti sampai ke belajar Matematika, IPA dll.

Hilangkan mindset kita bahwa belajar itu adalah guru ketemu murid. Semisal menonton National Geographic, Discovery Channel, BBC Knowledge dan Animal planet juga bisa menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan. Kita bisa mempelajari berbagai jenis ekosistem, rantai makanan, habitat melalui tayangan documenter hewan2. Bisa belajar sosiologis dan budaya berbagai masayrakat dunia. Bisa belajar sejarah dan penemuan2 penting para ilmuwan dunia dll. Update perkembangan teknologi dan lainnya. Kadang saya lebih mengerti makna sejarah dengan menonton film documenter dari pada dulu belajar buku sejarah yang lebih menekankan pada tanggal, tempat dan orang.

Metode belajar lain seperti berkebun di rumah sambil mengamati jenis2 pohon (monokotil, dikotil dll). Di dapur belajar masak sambil belajar fisika, air panas berubah menjadi uap. Kemudian jalan2 ke kebun binatang mengenal jenis2 hewan (karnivora, herbivore dll). Ke museum dll.

Intinya anak kita bimbing untuk lebih “memahami” daripada hanya sekedar “menghafal” pelajaran (yang kemudian lupa beberapa hari kemudian setelah ujian). Dan tanggung jawab pendidikan itu bukan hanya di sekolah (formal) tetapi juga di rumah dan lingkungan (informal).



Wednesday, April 3, 2013

Energi Sebagai Penggerak Ekonomi

Bila membaca berita2 seputar dunia migas dan konstuksi di Indonesia. Nampak jelas bahwa saat ini sedang dan akan gencar2nya proyek skala besar yang mencapai investasi CAPEX milyaran dolar amerika. Dimulai dari proyek2 lepas pantai di lautan dalam (deepwater) seperti IDD, Jangkrik, Masela [1] [2]. Maupun proyek2 onshore seperti diantaranya pengembangan CPP dan LNG Plant di Donggi-Senoro-Matindok di Sulawesi Tengah [3] [4] [5] [6], Dan Tangguh train 3 Papua Barat [7].
Pengmbangan di sektor hulu migas membawa juga gairah investasi di sektor olahan-nyas yakni industri sektor Petrokimia dan Pupuk. Investasi CAPEX-nya pun juga besar diatas USD 500 juta. Proyek2 tersebut diantaranya Pusri IIB di Palembang [8], Pabrik amoniak PAU di Luwuk [9], Pabrik Petrokimia Ferrostaal di Papua Barat [10]
Belum lagi rencana2 proyek di sektor pembangkitan listrik utk memanfaatkan gas alam yang skala projetnya dapat mencapai puluhan dan ratusan juta dolar, diantaranya di Arun, Jateng dll [11] [12]
Selain proyek dan rencana proyek yang disebutkan diatas, tentunya masih banyak proyek2 lainnya (Proeyk di sektor mining, infrastruktur industry dll). Bila dibandingan sekitar 5 tahun kebelakang. Tentu jumlah dan skala proyek yang tersedia saat ini sangat jauh lebih besar dan banyak.
Banyaknya proyek tersebut mengakibatkan tingginya demand SDM untuk melaksanakan berbagai proyek tsb. Tentunya benefit instan yang dirasakan oleh orang2 yang bekerja di sektor jasa konstruksi EPC (Engineering, Procurement, Construction) bidang migas dan petrokimia adalah banyaknya tawaran peluang kerja disektor ini [13] [14]. Tak lupa sambil bernegosisasi utk memperbaiki “rate” masing2 (hehehehe... ). Tetapi penulis bermaksud membahas lebih dari (beyond) sekedar masalah interview dan negosisasi memanfaatkan situasi saat.

Efek Bola Salju Pertumbuhan Ekonomi
Bila melihat investasi besar2an yang masuk saat ini, sedikit banyaknya akan memberikan kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi. Ketika saat ini Indonesia sedang menikmati pertumbuhan ekonomi diatas 6% [34] [35]

Prediksi penulis bahwa dalam 5 tahun kedepan, angka pertumbuhan tersebut masih reliable utk dipertahankan (dengan beberapa catatan tentunya).
Nilai investasi milyaran dolar CAPEX proyek yang ada saat ini menurut penulis hanyalah awalan dari bola salju yang akan menggelinding membesarkan perekonomian nasional. Sektor perekonomian lainnya seperti jasa transportasi, logistik, manufaktur dan lainnya akan mendapatkan efek positif baik langsung dan tak langsung.
Contohnya di sektor transportasi, lapangan migas yang terletak di seantero Indonesia membutuhkan mobiliasi orang untuk mencapai daerah tersebut. Efek langsungnya Peluang dalam transportasi ini nampaknya sudah di tangkap oleh salah satu pengusaha nasional (Rusdi kirana) melalui Lion Air-nya [36]
Efek tak langsung pun juga terasa. Banyaknya middle class society menyebabkan, sekarang kesulitan untuk mencari Assisten Rumah Tangga (ART). Sehingga beberapa rekan saya pun mendatangkan jasa ART pun antar pulau menggunakan pesawat terbang.

Local Content
Kebijakan pemerintah dalam menggalakan TKDN / Local content [37] [15] patut mendapatkan apresiasi yang baik.
Untuk industri/manufaktur penunjuang utk barang2 konstruksi migas. Menurut pengamatan penulis beberapa sektor yang telah berprestasi dalam memenuhi kebutuhan local conent ini adalah Industri Semen. Ditandai dengan banyaknya investasi pembuatan pabrik2 semen baru [16] [17] utk memenuhi rasa lapar pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sehingga rasa2nya tidak terdengar berita Indonesia mengimpor semen. Bahkan industry semen Indonesia sudah melancarkan sayapnya ke luar negri [18]. Penulis memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pencapaian swasembada semen ini.
Sektor lain seperti fabrikasi (tanki, vessel, pipe spool, modul, struktur dll) dan galangan yang tersebar di batam, cilegon, Surabaya, balikpapan dll. Rasanya telah menangkap peluang ini.
Catatan khusus penulis berikan pada sektor metal/logam. Walaupun sudah ada beberapa industri metal yang bergerak dalam sektor ini (terutama Krakatau Steel). Dari pengamatan penulis, sektor ini belum mampu menangkap peluang/opportunity yang ada. Padahal dalam sektor migas dan petrokimia, metal/logam (metal dalam bentuk plat, bar, tubular, casting, forging dll) adalah bahan penting. Sehingga kekurangan atau gap market ini banyak diambil dari produk2 buatan mulai Jepang, Korea, China dan India.
Sebagai contoh adalah pemenuhan kebutuhan produk logam/metal seperti seamless pipe/tubular, pipe fittings dan valve/katup. Untuk grade dasar seperti carbon steel (baja kabon). Sebagian besar masih impor. Kalaupun ada dari dalam negeri kadang secara price, delivery dan quality kurang kompetitif dibandingkan impor. Ironisnya disektor manufaktur otomotif, kemampuan manufaktur di Indonesia sudah sangat maju. Bahkan anak SMK pun kini sudah bisa bikin mobil [19].
Padahal mobil di Indonesia (minimal di Jakarta dan sekitarnya) sudah sangat jenuh a.k.a macet pisan euy. Alangkah baiknya sebagian dari sumber daya otomotif (baik itu sumber daya manusia, dana dll) ini beralih kepada memenuhi kebutuhan kebutuhan logam/metal di sektor migas dan petrokimia (SDM, dana, market dan kebijakan ada, tinggal apalagi?)
Untuk sektor penyedianan hi-tech dan high precision rotating/machinery dan instumentasi/control. Mungkin masih nanti, disebabkan memasuki sektor ini memerlukan R&D yang banyak serta market yang cukup niche, sehingga resiko investasi cukup tinggi bila dimasuki.


Lapangan kerja & Pengembangan SDM
Efek bola salju pertumbuhan ekonomi ini membawa impak positif pada peluang ketersediaan lapangan kerja baru. Seperti yang telah penulis sampaikan diatas, bahwasanya saat ini sedang tinggi2-nya demand SDM di sektor proyek migas. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri dari beberapa orang yang mulai beralih utk bekerja di sektor ini, mengingat peluang cukup lebar utk mendapatkan upah diatas rata2 UMR buruh.
Yang penulis amati saat ini di sektor SDM adalah adanya gap antara kualifikasi yang dibutuhkan oleh sektor proyek migas dengan kualifikasi lulusan yang tersedia. Permasalahan ini muncul karena mungkin kita telah salah mempredikisi kebutuhan Sumber daya manusia. Beberapa solusi yang penulis tawarkan antara lain.
Pertama, dimulai dari kordinasi antara kementrian terkait ESDM, Perindustrian dengan Pendidikan tentang proyek2 kedepan beserta gambaran kira2 kebutuhan sumber daya manusianya. Kemudian diinformasikan pada anak2 sma dalam pemilihan jurusan. Sehingga terjadi pemerataan kebutuhan tenaga kerja di semua sektor. Sehingga tidak terjadi booming di suatu jurusan yang mengakibatkan ketika sudah lulus malah lapangan kerjanya jenuh.
Kedua, komunikasi yang intens antara Universitas dengan alumni-nya. Sehingga realita kebutuhan tenaga kerja bisa selaras dengan kurikulum. Para alumni bisa memberikan masukan update kurikulum.
Ketiga, menumbuhkan semangat teknokrat/engineer. Dalam menjalankan proyek migas, semua aspek disiplin keilmuan dibutuhkan dalam menjalankan bisnis ini. Tetapi tetap, core value yang utama adalah engineering. Sehingga kebutuhan mencetak engineer di Indonesia adalah suatu hal yang tidak dapat ditawar. Dulu Indonesia rasanya memiliki “Habibie effect”, dimana beliau menjadi rolemodel generasi muda dalam mendalami bidang keinsinyuran. Tetapi penulis perlahan melihat bahwa kini hal tersebut mulai terkikis. Penulis beranggapan hal ini tercemin dalam tayangan yang ada televisi. Sekarang tayangan televisi ada acara sinetron, lawak, olahraga, kuliner/masak, talkshow hukum, talkshow ekonomi, politik. Tetapi masih minim acara yang menampilkan/membahas sains maupun engineering. Penulis mengusulkan agar bangsa ini memiliki stasiun TV seperti NatGeo[20] atau Discovery Channel [21] yang menampilkan porsi utk acara2 yang ttg sains dan engineering. Acara2 seperti “How its made” [22], “How do they do it” [23], “Modern Marvels” [24], dll dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap dunia engineering.
Keempat, banyaknya sektor ini menyerap lapangan kerja bila tidak diantispasi dapat berakibatkan kekurangan sektor SDM disektor lainnya, terutama sektor yang dianggap tidak “basah” (seperti pertanian dll). Sehingga pengembangan SDM kedepannya, penulis setuju dengan pernyataan SBY bahwa era buruh murah sudah usai [25] [26]. Sektor2 seperti garmen, agraria dll harus dimodernisasi dengan alat2 otomatis sehingga pekerja di sektor ini memiliki rasio upah vs produktifitas yang kompetitif juga. Bayangkan bila orang berlomba-lomba tidak menjadi petani karena upah yang didapatkan disana “kering”, padahal sektor pertanian merupakan pilar ketahanan pangan nasional.

Middle Class Society Booming
Tawaran THP yang diatas UMR membuat banyak orang yang berminat melanjutkan karir di bidang proyek migas. Efeknya adalah orang2 yang bekerja dibidang berhubungan dengan ini setidaknya masuk dalam middle class society di Indonesia. Menyikapi hal ini, ada beberapa hal yang patut diantisipasi.
Pertama, kemampuan financial kelas masyarakat ini setidaknya membuat para kreditur menjadikan pasar yang menggiurkan. Tetapi yang perlu diwaspadai adalah terjadinya Bubble yang diakibatkan approval kredit yang terlalu mudah. Karena dapet menuju ambruknya perekonomian akibat masyarakatnya terlalu konsumtif. Sebuah quote bagus dari Karl Mark, Das Kapital & Depresi Ekonomi " owners of capital will stimulate the working class to buy more and more of expensive goods, houses and technology, pushing them to take more and more expensive credits, until their debt becomes unbearable. The unpaid debt will lead to bankruptcy of banks, which will have to be nationalized and the state will have to take the road which will eventually lead to communism" Karl Marx Das Kapital 1867
Kedua, perubahan demografi kemampuan financial masyarakat sedikit banyaknya akan mempengaruhi pola konsumsi masyarakat tersebut. Sebagai contoh mungkin adalah semakin tingginya demand kebutuhan daging sapi yang sedikit banyaknya disebabkan oleh makin banyaknya middle class society ini.

Keamanan & Pertahanan
Secara keamanan regional, Indonesia dikawasan yang cukup aman. Tidak berada di kawasan yang rawan konflik regional seperti di korea (nuklir), timur tengah (Israel & arab spring) dll. Hal ini sangat positif bagi pertumbuhan bangsa. Kendala terbesar saat ini adalah dari internal bangsa Indonesia itu sendiri.
Pertama adalah konflik sesame elemen bangsa Indonesia baik itu di masyarakat maupun aparat. Mulai isu pilkada, konflik solidaritas antara aparat Negara, tawuran pelajar, isu kesukuan, agrarian dan masih banyak lagi.
Kedua adalah serangan penyakit masyarakat seperti narkoba, miras illegal, perjudian dll. Penyakit masyarakat tersebut dapat merusak kualitas SDM manusia kedepannya.
Bila kedua permasalahan diatas tidak diatasi, yang merasakan kerugiannya adalah bangsa kita sendiri. Berkaca dari negara2 yang kaya akan sumber daya alam (migas, mineral, hutan dll) tetapi rawan konflik. Sumber daya alamnya pun akan terus disedot contohnya adalah Nigeria dan Iraq yang kaya akan migas. Tetapi karena Negara tersebut sedang konflik maka benefit untuk rakyatnya hanya sedikit. Sehingga konflik yang kita ciptakan karena egoisan diri kita hanya akan merugikan diri kita sendiri.

Sustainable Growth
Derasnya investasi saat ini, penulis anggap mirip dengan apa yang pernah dialami Negara ini. Mirip saat era Soeharto membuka keran investasi di Indonesia. Menyikapi hal ini seyoganya kesalahan terdahulu tidak kita ulangi lagi.
Mau tak mau saat ini kita harus mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi masih bertumpu pada kekayaan sumber daya alam yang kita miliki. Kita masih belum seperti jepang, korea, Taiwan, jerman, belanda, singapura dll dimana mereka minim sumber daya alam tetapi sumber daya manusia, kemampuan teknologi, industry dan perdagangannya mampu menjadi tumpuan pendapatan Negara. Celakanya kita umumnya bertumpu (terutama di sektor energy) pada sumber daya alam non renewable seperti minyak, gas dan batubara. Bila SDA non-renewable tersebut sudah habis, apa yang akan kita lakukan?
Penulis jadi ingat pengalaman perjalanan tahun lalu ke kota Lhokseumawe di Aceh [27] [28]. Pada 1970an kala ditemukan cadangan gas yang sangat besar, perekonomian di sana tumbuh besar. Ditandai dengan PT Arun sebagai kilang pengolahan gas. Gas tersebut digunakan sebagai ekspor dan sebagian lagi untuk menghidupi pabrik2 seperti 3 pabrik pupuk (Pupuk Iskandar muda 1 & 2, Aceh Asean Fertilizer), pabrik kertas Aceh dll. Bahkan PT Arun ini pada 1990 sempat menjadi pusat penghasil LNG terbesar di dunia [29]. Tetapi setelah 40 tahun dikuras, kini pasokan gas didaerah tersebut sudah hampir habis. Kilang dan industry disekitarnya sudah tidak berjalan full capacity, dan industry pupuknya dan industry lainnya hampir mati karena kekurangan pasokan gas. Sehingga kini pemerintah merencanakan untuk mengimpor gas dalam bentuk LNG utk keperluan industry di Lhokseumawe. Ironis memang bila mengingat bahwa dulunya adalah salah satu daerah penghasil LNG terbesar.
Maka untuk sustainable growth ini, kita memerlukan roadmap rencana energy dan perekonomian utk mengantisipasi habisnya cadangan minyak ke depan. Sebagai contoh, negara2 kaya minyak dan gas seperti Uni Emirates, Bahrain dan Qatar telah mulai mempersiapkan dirinya dari sekarang mengantisipasi habisnya cadangan migas mereka. Dengan profit migas yang sangat banyak, mereka tidak lupa menginvestasikan pada: Pertama, Low Cost Airline [30] [31] mengingat lokasi negara2 tersebut strategis diantara tiga benua (Eropa, Afrika dan Asia). Kedua, investasi dilakukan pada sektor pariwisata.
Ketika Indonesia dulunya menikmati ekspor minyak yang banyak pada tahun 1980an s/d 1990an. Kini sedang beralih pada gencar2nya produksi gas alam yang melimpah. Dan predikisi penulis, mungkin hanya 30 tahunan saja kita bisa menikmati limpahan gas alam tersebut. Sehingga dari sekarang kita harus mempersiapkan transisi yang mulus tentang sumber energy primer selanjutnya. Jangan sampai beberapa kesalahan yang pernah dialami bangsa ini ketika hendak transisi terulang. Pertama, ketika hendak pindah ke bahan bakar nabati (pohon jarak). Kedua ketika saat ini kita telat utk transisi sumber energy primer dari minyak ke gas, dimana infrastruktur penerimaan gas untuk kebutuhan dalam negri masih banyak yang belum siap.
Menurut prediksi penulis, sumber energy yang ready utk dipanen setelah gas alam. Adalah batu bara dan geothermal. Kendala batubara kita yang rendah kalor dapat kita olah dengan beberapa cara utk menaikan kadar kalorinya antara lain dengan Coal Liquefaction/Slurry [32] maupun Coal Gasification [33]. Kemudian setelah era batu bara dan geothermal, hasil pengamatan penulis transisienergy masa depan selanjutnya di Indonesia adalah nuklir, tenaga surya sel photovoltaic, dan biomassa. Menyiapkan sumber daya manusia dan infrastruktur menuju transisi tersebut perlu perencanaan matang dan kerja sama dari semua pihak. Sektor energy ini kita jaga agar kita tidak berhenti utk membangun, karena menurut penulis: Energi merupakan penggerak Ekonomi.

Referensi

[1] http://www.esdm.go.id/news-archives/oil-and-gas/47-oilandgas/5479-three-deepwater-projects-are-the-future-gas-production-reliability.html


[2] http://www.2b1stconsulting.com/eni-and-gdf-suez-call-for-tender-on-2-billion-jangkrik/

[3] http://www.tender-indonesia.com/tender_home/innerNews2.php?id=16466&cat=CT0008

[4] http://www.pertamina-ep.com/id/warta-pep/2012/11/22/pertamina-ep-kerjasama-dengan-rekayasa-industri-bangun-fasilitas-produksi-gas-d

[5] http://www.migas.esdm.go.id/tracking/berita-kemigasan/detil/271900/0/Gas-Matindok-Mengalir-ke-Donggi-Senoro--Pertamina-EP-Bakal-Menganggarkan-US$300-Juta-Tahun-Ini-Untuk-Kegiatan-Eksplorasi

[6] http://www.jgc.co.jp/en/01newsinfo/2011/release/20110125.html

[7] http://www.ogj.com/articles/2012/11/indonesia-approves-train-3-expansion-of-tangguh-lng.html

[8] http://pupuk-indonesia.com/en/latest-news/321-rekind-toyo-consortium-wins-tender-for-pusri-iib-urea-plant

[9] http://www.tender-indonesia.com/tender_home/innerNews2.php?id=18402&cat=CT0011

[10] http://www.tempo.co/read/news/2013/03/05/090465255/Ferrostaal-Bangun-Pabrik-Petrokimia-di-Papua-Barat

[11] http://pmeindonesia.com/berita-migas/896-pemerintah-alokasikan-lng-untuk-fsru-jateng-jakarta-banten-dan-aceh

[12] http://www.pertamina.com/NewsPageDetail.aspx?act=NewsUpdate.aspx&id=830

[13] http://www.petromindo.com/job.php

[14] http://finance.groups.yahoo.com/group/lowongan_migas/

[15] http://finance.detik.com/read/2012/12/26/095711/2126633/1034/tkdn-hulu-migas-2012-capai-us--85-miliar

[16] http://www.kemenperin.go.id/artikel/4535/Tiga-Pabrik-Semen-Baru-Dibangun-Tahun-Ini

[17] http://www.antaranews.com/berita/364624/thyssenkrupp-jerman-akan-bangun-pabrik-semen-holcim-di-indonesia

[18] http://www.tempo.co/read/news/2013/03/25/092469237/PT-Semen-Indonesia-Ekspansi-ke-Myanmar

[19] http://www.mobilsmk.com/

[20] http://www.nationalgeographic.com/

[21] http://dsc.discovery.com/

[22] http://en.wikipedia.org/wiki/How_It's_Made

[23] http://en.wikipedia.org/wiki/How_Do_They_Do_It%3F

[24] http://en.wikipedia.org/wiki/Modern_Marvels

[25] http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2012/11/30/8553.html

[26] http://nasional.kontan.co.id/news/sby-pertegas-era-buruh-murah-sudah-usai

[27] http://wekoabhinimpuno.blogspot.com/2012/07/jalan2-lhokseumawe.html

[28] http://id.wikipedia.org/wiki/Lhokseumawe

[29] http://id.wikipedia.org/wiki/Arun_Natural_Gas_Liquefaction

[30] http://www.etihadairways.com

[31] http://www.emirates.com/

[32] http://www.jgc.co.jp/en/04tech/04coal/jcf.html

[33] http://en.wikipedia.org/wiki/Coal_gasification

[34] http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/13/01/04/mg3u5b-menkeu-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-kedua-terbaik-setelah-cina

[35] http://www.tempo.co/read/news/2013/02/05/090459261/Pertumbuhan-Ekonomi-2012-Meleset-Dari-Target

[36] http://www.airbus.com/presscentre/pressreleases/press-release-detail/detail/lion-air-orders-234-a320-family-aircraft/

[37] http://archive.bisnis.com/articles/industri-hulu-migas-bumn-didorong-tingkatkan-nilai-kandungan-lokal#

Tuesday, January 6, 2009

Tuesday, December 23, 2008

Fatwa Haram Merokok

Sempat mencuat di media massa bahwa MUI mewacanakan Fatwa haram terhadap rokok. Tetapi sejauh ini msh belum ada perkembangannya. Malah ketika ku cari artikel-artikel di google, fatwa haram merokok ditujukan kepada anak-anak. Entahlah...?! Setidaknya mari kita wacanakan dan dukung fatwa haram terhadap rokok. Dengan munculnya fatwa tersebut, tentunya dapat menekan kebiasaan merokok di Indonesia. Berikut artikel bagus yang ku copy paste dari sebuah web [link]. Kalau males baca artikel lengkapnya, berikut kuresumekan:

Dijelaskan dalam surat Al-Baqarah: 195 "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan." Tidak ada orang yang bisa menyangkal bahwa rokok itu berbahaya. Bahkan perusahaan rokok pun mengiyakan hal tersebut, dan menuliskan pada kemasannya kalimat berikut: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGUGAN KEHAMILAN DAN JANIN. Kalau produsen rokok sendiri sudah menyatakan bahaya produknya berbahaya dan mendatangkan penyakit, bagaimana mungkin konsumen masih mau mengingkarinya?


Artikel lengkapnya:
Sumber: http://www.halalguide.info
Judul: Himpunan Fatwa Haram Merokok [link]
Penulis: Rizki Wicaksono, dari berbagai sumber

Wednesday, December 10, 2008

The Oil Price



Gonjang-ganjing harga minyak menarik untuk kita cermati. Antara bulan April dan September 2008, harga minyak mencapai angka US$100 per barel. Proyek2 eksplorasi migas dan energi alternatif pun mulai banyak ditekuni.

Eksplorasi dan eksploitasi minyak kini lebih gencar, bermunculan negara2 baru penghasil minyak. Konsekuensinya harga minyak telah turun kembali ke level di bawah US$50 per barel pada December 2008. Akankah penurunan harga minyak dunia ini menghentikan proyek2 energi alternatif seperti biofuel, geothermal dll? Terlebih krisis moneter dunia sedang berlangsung.

sumber: http://www.oil-price.net/

Tuesday, November 13, 2007

Peranan Media dalam Pendidikan Anti-Korupsi

Korupsi telah amat membudaya dalam tata kehidupan bangsa Indonesia. Maka tak heran bila saat ini ada sekitar 12.400 laporan korupsi yang masuk ke meja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pemberitaan di media pun tak kalah banyaknya. Sekarang kita sudah tidak aneh lagi bila mendengar atau membaca kasus tentang pejabat yang menggelembungkan anggaran (mark up), pengusaha yang menyelewengkan dana, pencekalan dan pemerikasaan terkait kasus korupsi.

Maraknya pemberitaan tentang kasus korupsi telah membawa dampak positif bagi pendidikan antikorupsi. Setidaknya terdapat tiga peranan media bagi pendidikan antikorupsi, pertama menimbulkan rasa was-was bagi orang yang hendak melakukan korupsi dikarenakan takut akan hukumannya. Kedua menimbulkan efek jera bagi pelaku korupsi akibat rasa malu yang diterima oleh si pelaku maupun keluarganya. Ketiga mendidik masyarakat untuk dapat mengetahui jenis dan pola korupsi sehingga dapat peka terhadap suatu gejala korupsi.

Media memang memiliki peranan penting dalam proses pendidikan dan penyampaian informasi kepada masyarakat. Dalam hal ini, pendidikan antikorupsi yang selama ini tidak ada dalam mata pelajaran dapat terfasilitasi melalui media massa.

Mengingat pentingnya peranan media dalam pendidikan antikorupsi maka pengembangan-pengembangan perlu dilakukan. Pola pemberitaan korupsi yang selama ini banyak berbentuk hard news dapat diubah menjadi feature sehingga dapat memberikan efek yang lebih mendalam tentang seluk-beluk korupsi kepada para pembaca. Selain itu, perlindungan terhadap wartawan peliput dan media yang memberitakan kasus korupsi perlu untuk ditegakan. Hal ini mengingat peliputan dan pemberitaan terhadap kasus-kasus korupsi berskala besar seringkali tak luput dari bahaya pengerahan premanisme. Tak lupa, peranan media ini perlu untuk dijaga sehingga tidak melenceng dari jalurnya semula. Tak jarang ada wartawan atau media yang malah menggunakan isu korupsi untuk memeras. Menjaga kredibilitas media adalah cara agar dipercayai oleh para pembacanya.

Pendidikan antikorupsi tidak harus dilakukan dalam pendidikan formal. Salah satu alternatif pendidikan antikorupsi yang telah terbukti cukup efektif adalah melalui media massa.

Sunday, August 12, 2007

Pendidikan Anti-Korupsi

Saat ini, pendidikan antikorupsi sedang hangat untuk diwacanakan. Berbagai pihak sedang mengembangkan bermacam-macam metode pembelajaran yang diharapkan kelak dapat menghentikan praktik budaya korupsi di masyarakat. Sebut saja program pemerintah Kota Batam yang selama enam bulan ini mensosialisasikan bahaya korupsi kepada pelajar dengan mendatangi 53 sekolah menengah atas se-Kota Batam. Tak ketinggalan pula, Badan Eksekutif Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa (BEM-KM) UGM yang mengadakan kegiatan Sekolah Anti Korupsi (SAK) yang dirintis sejak Agustus 2005.

Perlu untuk diperhatikan bersama bahwa penyelenggaraan pendidikan antikorupsi jangan hanya menekankan pada aspek kognitif (pengetahuan) semata. Aspek afektif (sikap) dan psikomotoris (kecakapan) perlu untuk dikembangan juga secara seimbang. Pendidikan antikroupsi yang seimbang dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotoris merupakan bekal yang sangat penting bagi siswa. Keseimbangan tersebut dapat membentuk mental yang kokoh dalam menjauhi korupsi.

Metode-metode yang efektif dalam mengembangkan aspek kognitif siswa dapat dilakukan melalui dialog maupun ceramah. Penerapan metode ini tidak perlu dilakukan dalam mata pelajaran baru. Penyisipan materi pendidikan antikorupsi dapat dilakukan dalam mata pelajaran yang telah ada, terutama dalam pelajaran ilmu sosial. Untuk mengevaluasi keberhasilan aspek kognitif pengajaran dapat dilakukan melalui pemberian tes tertulis, tugas kliping, esai, makalah maupun lomba karya tulis.

Aspek afektif dan psikomotoris akan lebih efektif dikembangkan di kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler sekolah merupakan simulasi dari bermasyarakat. Guru sekolah dituntut untuk dapat membimbing para siswa menjauhi praktik korupsi pada saat siswa tersebut menjalani kegiatan-kegiatan ektrakurikuler. Para siswa dibimbing agar dapat berlaku “bersih” dan transparan pada saat berkegiatan di OSIS, koperasi siswa, kepanitian orientasi siswa baru atau kepanitiaan 17 Agustusan.

Pelaksanaan pendidikan antikorupsi yang seimbang ini memerlukan perencanaan yang matang dan konsistensi dari pihak sekolah. Pihak sekolah harus pula dapat menjadi teladan dalam menjauhi praktik korupsi. Usaha sekolah dalam pelaksanaan pendidikan antikorupsi harus mendapat dukungan dari pemerintah dan masyarakat. Walau sekolah memegang peranan sentral tetapi semua pihak memiliki tanggung jawab dalam menyukseskannya.

Monday, July 16, 2007

Kebiasaan Merokok di Indonesia

Sudah umum untuk diketahui bahwa kebiasaan merokok dapat menyebabkan datangnya berbagai penyakit. Namun, tampaknya pengetahuan tentang bahaya nikotin dan racun-racun pada rokok tidak cukup ampuh dalam mengajak orang untuk berhenti merokok.

Dari tahun ke tahun, jumlah perokok aktif di Indonesia mengalami peningkatan. Prof. Dr. Hadiarto Mangunnegoro, Sp.P, menyebutkan bahwa jumlah perokok aktif di Indonesia yang pada tahun 1990-an sekitar 22,5 persen naik menjadi 60 persen dari jumlah penduduk pada tahun 2000 (kompas.com, 21/7/2005). Dengan peningkatan jumlah perokok yang cenderung naik pesat dari tahun ke tahun, maka tak heran bila saat ini Indonesia telah menduduki peringkat kelima jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina, Amerika, Rusia, dan Jepang (tempointeraktif.com, 1/6/2006).

Lebih mencengangkan lagi adalah fakta bahwa Indonesia mencetak rekor yakni sebagai negara dengan jumlah perokok remaja tertinggi di dunia. Hakim Sorimuda Pohan seusai acara peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2006 menuturkan bahwa saat ini tak kurang dari 13,2 persen anak-anak di Indonesia menjadi penghisap rokok. (republika.co.id, 1/6/2006). Berdasarkan survei, sekitar 34 persen anak sekolah usia SMP di Jakarta pernah merokok. Sekitar 16,6 persen di antaranya masih aktif merokok. Di Bekasi, Jawa Barat, 33 persen murid usia SMP juga pernah merokok dan 17,1 persen di antaranya tergolong perokok aktif. Di Medan, 34,9 persen anak usia SMP pernah merokok dan 20,9 persen masih aktif merokok (republika.co.id, 1/6/2006).

Sungguh amat menyedihkan melihat banyaknya perokok berusia remaja dan anak-anak. Bila hal ini tidak segera ditanggulangi maka dikemudian hari akan menyebabkan serangkaian permasalahan seperti peningkatan jumlah angka kematian akibat rokok serta penurunan usia produktif SDM bangsa Indonesia. Selain itu, bahaya lain yang tersembunyi dari merokok adalah bahwa remaja dan anak-anak yang menjadi perokok aktif akan lebih rentan untuk terjerumus kepada bahaya Narkoba (McDonough, 2003) dan minuman keras (Robertson, 2002).

(weko dari berbagai sumber)