Showing posts with label Health. Show all posts
Showing posts with label Health. Show all posts

Monday, April 29, 2013

Bahaya Asbes

Mendengar kata “Asbes”, kebanyakan orang akan teringat pada Atap Asbes. Atap jenis ini cukup banyak digemari oleh orang2 indonesia sebagai atap terutama utk bangunan seperti rumah semi-permanen, garasi, warung/kios, pabrik dan lain sebagainya. Alasan murah dan ekonomis menjadi alasan utama mengapa atap jenis ini menjadi laris. Selain itu dibandingkan dengan atap seng (yang sama2 murah), atap asbes ini juga memiliki keunggulan relatif tidak menyerap panas, ringan, dan tidak berisik ketika hujan.



“Asbes” sendiri merupakan istilah pasar untuk bermacam-macam mineral yang dapat dipisah-pisahkan hingga menjadi serabut yang fleksibel. Berdasarkan komposisi mineralnya, asbes dapat digolongkan menjadi dua bagian. Golongan serpentin; yaitu mineral krisotil yang merupakan hidroksida magnesium silikat dengan komposisi Mg6(OH)6(Si4O11) H2O, Golongan amfibol; yaitu mineral krosidolit, antofilit, amosit, aktinolit dan tremolit. Yang banyak digunakan dalam industri adalah asbes jenis krisotil.


Selain kompisisi mineralnya, asbes memiliki perbedaan pada panjang “serat”nya. Serat yang panjang dan halus memiliki kegunaan yang berbeda. Umumnya kegunaan tersebut didasarkan pada kemampuan asbes utk di”pintal”.

Serat asbes yang dapat dipintal, umumnya digunakan untuk :
- Kopling, tirai dan layar, gasket, sarung tangan, kantong-kantong asbes, pelapis ketel uap, pelapis dinding, pakaian pemadam kebakaran, pelapis rem, ban mobil, bahan tekstil asbes, dan lain-lain.
- Alat pemadam api, benang asbes, pita, tali, alat penyam-bung pipa uap, alat listrik, alat kimia, gasket keperluan laboratorium, dan pelilit kawat listrik.



Sedangkan asbes yang tidak dapat dipintal digunakan untuk:
- Semen asbes untuk pelapis tanur dan ketel serta pipanya, dinding, lantai, alat-alat kimia dan listrik
- Asbes untuk atap;
- Kertas asbes untuk lantai dan atap, penutup pipa isolator-isolator panas dan listrik;
- Dinding-dinding asbes untuk rumah dan pabrik, macam-macam isolasi, gasket, ketel, dan tanur;
- Macam-macam bahan campuran lain yang menggunakan asbes sangat halus dan kebanyakan asbes sebagai bubur.


Bahaya Asbes
Dari sekian banyak kegunaannya, tahukah anda bahwa serat asbes merupakan bahan yang berbahaya? Dan mengapa?

Serat asbes umumnya berukuran 3 sampai 20 micron, sehingga tidak dapat terlihat secara kasat mata. Tetapi bila diperbesar melalui mikroskop electron, bentuk dari serat asbes adalah lancip dan tajam.


Partikel-partikel serat asbes tersebut sangat ringan dan dapat terbang diudara. Bila terhirup dan masuk ke dalam paru-paru maka tidak dapat keluar dari tubuh lagi. Hal ini dikarenakan serat asbes tersebut terjebak dan menempel pada organ paru-paru. Kemudian dikarenakan serat asbes adalah inorganic, ia tidak dapat larut/terurai keluar dari tubuh.

Serat asbes yang lancip/tajam dan terjebak di dalam paru-paru inilah yang berbahaya bagi kesehatan. Paru-paru kita mengembang dan mengempis ketika bernafas, pada saat itulah serat asbes yang lancip/tajam mengiris-iris bagian dalam paru-paru. Kemudian mengakibatkan luka pada paru-paru. Luka ini berkembang terus menjadi iritasi/luka yang lebih besar lagi dikarenakan ter-iris lagi ketika bernafas. Sampai ke berbagai macam penyakit lainnya seperti sesak nafas dan kanker.


Berikut beberapa contoh awal kasus dari orang orang2 yang terindikasi terkena penyakit yang terkait dengan asbes. Umumnya adalah pekerja di pabrik pengolahan asbes atau keluarga (anak) dari pekerja asbes yang tinggal dekat pabrik ataupun rumah/lingkungan yang penuh asbes. Berikut contoh dari Division of Occupational Safety & health (DOSH) Washington State Departement of Labor & Industries adalah kasus sesak nafas yang terjadi pada Joe Darabant dan tumor paru-paru pada Richard Pankowski


Lebih gawat lagi, sejauh ini belum ada cara untuk mendeteksi seberapa parah paru-paru kita terkontaminasi asbes. Foto rontgen terhadap paru-paru tidak dapat banyak membantu dikarenakan serat asbes yang berukuran micron. Kita hanya dapat menduga paru-paru terkena penyakit yang terkait asbes bila terjadi gejala sesak nafas dan orang tersebut tinggal di lingkungan yang banyak asbes.


Asbes di Dunia
Di negara-negara berkembang, asbes masih merupakan primadona sebagai aneka bahan baku industry. Indonesia sendiri pada 2010 merupakan negara konsumsi asbes nomor 5 terbesar di dunia setelah China (613,760 metric tons), India (426,363 metric tons), Russia (263,037 metric tons), Brazil (139,153 metric tons), dan Indonesia (111,848 metric tons).


Sebagai negara terbesar ke-5 di dunia dalam hal konsumsi asbes, kita dapat menemukan produk2 dengan bahan baku tersebut dimana-man. Yang kasat mata tentulah atap2 asbes, yang masih dijual secara bebas tanpa peringatan.



Tetapi terkadang dalam produk2 lainnya yang kita beli, sejauh ini tidak ada peringatan apakah produk yang kita beli tersebut mengandung asbes. Hal ini mungkin karena belum ada kesadaran dari masyarakat indonesia serta belum ada undang2 yang mengatur tentang asbes.

Berbeda dengan negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa Barat, zaman “kejayaan” asbes dimulai pada tahun 1900an dan berakhir pada awal 1980an. Kini negara2 tersebut (terutama Amerika) sedang mengalami masa2 kesulitan untuk membongkar dan membersihkan bahan2 asbes yang terutama berada di bangunan. Prosedur ketat pun diterapkan dalam membersihkan asbes, gedung2 tua tidak boleh begitu saja dihancurkan bila banyak mengandung asbes, karena dikhawatirkan debu2 serat asbes akan terbang dan membahayakan penduduk sekitar.



Prosedur ketat dilakukan terhadap pembongkaran rumah, gedung dan pabrik yang mengandung bahan asbes seperti “membungkus” dengan plastic dan disambungkan dengan pompa vakum agar debu2 asbes tersebut tidak terbang. Orang2 yang membersihkan gedung2 asbes pun diwajibkan menggunakan baju “astronot” agar tidak membahayakan pekerja tersebut.



Penutup
Pelarangan asbes di indonesia nampaknya masih jauh. Keuntungan ekonomi jangka dekat (murah) dari penjual maupun pembeli/pengguna-nya merupakan alasan utama. Tetapi bila anda mencintai kesehatan anda dan keluarga anda, penulis sarankan untuk jauhi penggunaan asbes. Ya, kesehatan memang mahal.


Sumber:
http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Asbes/ulasan.asp?xdir=Asbes&commId=1&comm=Asbes
http://en.wikipedia.org/wiki/Asbestos
http://www.asbestosguru-oberta.com
- Division of Occupational Safety & health (DOSH) Washington State Departement of Labor & Industries
- mbah gugel
- dll

Friday, December 26, 2008

Myopia Manual


Judul lengkap buku ini adalah "Myopia Manual: An Impartial Documentation of All the Reasons, Therapies and Recommendations". Buku ini ditulis oleh Dr. Klaus Schmid, seorang physicist dari Jerman. Beliau tertarik mendalami miopia disebabkan anak-anaknya yang mengalami miopia. Padahal menurut penuturannya, mereka tidak memiliki garis keturunan myopic.
Kelebihan yang ditawarakan buku ini adalah refernsi lengkap mengenai hal-hal yang terkait dengan miopia. Kita disuguhkan fakta-fakta yang berimbang mengenai mitos-mitos seputar miopia. Apakah karena genetik atau kah karena kebiasaan? Bila anda memiliki hal yang ingin dikroscek seputar miopia. Maka buku ini dapat anda jadikan sebagai salah satu referensi yang terbaik.
Buku ini dapat anda download dalam bentuk pdf pada website berikut: www.myopia-manual.de. Hardcopy bisa anda dapatkan di amazon.com.

Saturday, November 17, 2007

Kontroversi Buah Merah


Sejak beberapa tahun yang lalu, buah merah (Pandanus Coneideus) menjadi terkenal karena dianggap mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Penjualan buha merah, yang biasanya berbentuk minyak, menjadi laris manis. Tak tanggung-tanggung, penyakit seperti kanker dan HIV/AIDS pun dikatakan mampu disembuhkan. Semua itu berdasarkan penuturan pasien.


Bila kita mencermati lebih dalam tentang buah merah. Ada beberapa hal yang mengganjal. Buah merah telah "booming" sejak beberapa tahun tapi publikasi ilmiah (juranal) tentang hasil penelitian ilmiahnya masih kurang. Bila kita mencoba mencari di google tentang "buah merah" atau "Pandanus Coneideus", hasilnya minim. Lebih banyak mengenai penawaran produk daripada hasil penelitian. Terdapat satu publikasi ilmiah dari FMIPA UI, hasilnya adalah buah merah tidak memberi efek signifikan.
(ada di http://jurnal.farmasi.ui.ac.id/pdf/2006/v03n03/munim.pdf)


Bila buah merah dapat menyembuhkan berbagai penyakit ganas, mengapa jumlah penelitian maupun publikasi ilmiahnya masih minim? Apakah karena biayanya yang sangat mahal? Bukankah bila teruji ilmiah maka dapat menghemat biaya perawatan penyakit-penyakit ganas yang memakan biaya mahal? Sehingga mahal di penelitian awal tetapi nantinya dapat menurunkan biaya pengobatan pasien.


Masyarakat harus hati-hati dalam menelahan berita dan informasi. Bila tidak, maka penggunaan obat yang kurang jelas dapat membawa dampak memperburuk pasien. Kalau itu sampai terjadi, siapa yang mau bertanggung jawab. Disini dapat kita simpulkan bahwa harus ada perbaikan di sektor kesehatan.

Monday, October 22, 2007

Sicko



Film doukmenter ini mengulas tentang komersialisasi di bidang kesehatan. Alur cerita yang unik membuat materi film yang berat menjadi mudah dicerna. Film ini nampaknya sebuah film yang wajib ditonton bagi orang-orang yang menginginkan perbaikan dunia kesehatan. Terutama saat ini, dunia kesehatan di Indonesia telah dijadikan area komersil.

Judul: Sicko
Personal Rating: 8,6/10

Monday, July 16, 2007

Kebiasaan Merokok di Indonesia

Sudah umum untuk diketahui bahwa kebiasaan merokok dapat menyebabkan datangnya berbagai penyakit. Namun, tampaknya pengetahuan tentang bahaya nikotin dan racun-racun pada rokok tidak cukup ampuh dalam mengajak orang untuk berhenti merokok.

Dari tahun ke tahun, jumlah perokok aktif di Indonesia mengalami peningkatan. Prof. Dr. Hadiarto Mangunnegoro, Sp.P, menyebutkan bahwa jumlah perokok aktif di Indonesia yang pada tahun 1990-an sekitar 22,5 persen naik menjadi 60 persen dari jumlah penduduk pada tahun 2000 (kompas.com, 21/7/2005). Dengan peningkatan jumlah perokok yang cenderung naik pesat dari tahun ke tahun, maka tak heran bila saat ini Indonesia telah menduduki peringkat kelima jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina, Amerika, Rusia, dan Jepang (tempointeraktif.com, 1/6/2006).

Lebih mencengangkan lagi adalah fakta bahwa Indonesia mencetak rekor yakni sebagai negara dengan jumlah perokok remaja tertinggi di dunia. Hakim Sorimuda Pohan seusai acara peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2006 menuturkan bahwa saat ini tak kurang dari 13,2 persen anak-anak di Indonesia menjadi penghisap rokok. (republika.co.id, 1/6/2006). Berdasarkan survei, sekitar 34 persen anak sekolah usia SMP di Jakarta pernah merokok. Sekitar 16,6 persen di antaranya masih aktif merokok. Di Bekasi, Jawa Barat, 33 persen murid usia SMP juga pernah merokok dan 17,1 persen di antaranya tergolong perokok aktif. Di Medan, 34,9 persen anak usia SMP pernah merokok dan 20,9 persen masih aktif merokok (republika.co.id, 1/6/2006).

Sungguh amat menyedihkan melihat banyaknya perokok berusia remaja dan anak-anak. Bila hal ini tidak segera ditanggulangi maka dikemudian hari akan menyebabkan serangkaian permasalahan seperti peningkatan jumlah angka kematian akibat rokok serta penurunan usia produktif SDM bangsa Indonesia. Selain itu, bahaya lain yang tersembunyi dari merokok adalah bahwa remaja dan anak-anak yang menjadi perokok aktif akan lebih rentan untuk terjerumus kepada bahaya Narkoba (McDonough, 2003) dan minuman keras (Robertson, 2002).

(weko dari berbagai sumber)

Miopia

Mata merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk melihat. Mata manusia memiliki mekanisme otomatis yang bekerja secara sempurna. Melalui mata, dunia dapat tervisualisasi sehingga manusia dapat melihat segala keindahan bentuk dan warna yang ada di dunia. Berbagai kelainan dan penyakit yang menyerang mata, tentu dapat membuat rasa tidak nyaman dan mengurangi kemampuan dalam merespon rangsangan cahaya.

Kemajuan teknologi telah membawa manusia dalam kehidupan yang lebih kompleks. Perubahan zaman yang terjadi tidak selamanya membawa pada kehidupan yang lebih baik. Berbagai masalah kesehatan yang tidak ditemukan pada tahun-tahun silam kini banyak yang bermunculan. Salah satu masalah kesehatan tersebut adalah miopia yakni ketidakmampuan mata untuk melihat objek secara jelas pada jarak jauh.

Dari tahun ke tahun, jumlah penderita miopia di seluruh dunia terus bertambah. Berbagai studi tentang miopia yang dilakukan terhadap anak-anak di seluruh dunia menunjukan hasil mencengangkan. Saat ini, tidak kurang dari 800 juta orang di dunia menderita miopia. Angka tertinggi penderita miopia umumnya ditemui di negara-negara asia yang maju. Sebuah penelitian menunjukan menuturkan bahwa tidak kurang dari 70% anak-anak di Singapura, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang yang menderita miopia .

Semakin banyaknya jumlah penderita miopia tentunya akan meningkatkan jumlah beban biaya untuk menanggulanginya. Setiap tahunnya, total biaya yang dikeluarkan untuk perawatan dan penanggulangan masalah miopia di Amerika Serikat mencapai 45 triliun rupiah.

Di Indonesia sendiri, fenomena miopia di masyarakat adalah ibarat gunung es. Saat ini, belum banyak penelitian yang membahas mengenai miopia baik dalam hal pola persebaran di masyarakat maupun upaya pencegahan dan perawatan miopia. Umumnya, masyarakat kurang peduli terhadap miopia karena menganggap bahwa penggunaan kacamata telah menjadi solusi. Tetapi pada dasarnya, kacamata merupakan solusi sementara karena si penderita dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya akan sangat bergantung pada alat tersebut. Hal ini tentu akan berpengaruh pada aspek sosial dan psikologis penderita.

Bila masalah miopia tidak segera diatasi, tidak menutup kemungkinan bila persebaran miopia di Indonesia akan segera bertambah. Bertambahnya jumlah penderita miopia ini tentunya akan menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Terdapat tiga alasan mengapa miopia menurunkan kualitas sumber daya manusia. Pertama, penderita miopia tidak dapat mengisi profesi-profesi yang menuntut kemampuan mata yang baik seperti pilot, militer dan polisi. Kedua, penderita miopia akan terganggu dalam menjalankan aktivitas kesehariannya karena harus bergantung pada kacamata atau lensa kontak sehingga waktu yang dimilikinya tidak dapat sepenuhnya efektif. Ketiga, penderita miopia lebih rentan terkena kebutaan.

(Dari berbagai sumber)