Saturday, November 17, 2007

Sebuah Janji

Novel fiksi ini mengambil latar belakang sejarah pasca serbuan/ekspansi bangsa Mongolia ke seluruh dunia. Disini kita akan disajikan mengenai mengenai tujuan hidup bagi bangsa mongol dan kaum muslim. Kekuasaan dan harta tak selamanya indah dan menentramkan hati.

Kesan mendalam dari novel ini adalah keikhlasan berjuang di jalan Allah. Patut di contoh oleh kita semua untuk senantiasa ikhlas dan berani untuk mengatakan kebenaran apapun yang dihadapi.

Pengarang: Shinta
YudisiaPenerbit: Gema Insani
Personal Rating: 8,2/10

nb: buku ini merupakan trilogi yang dilanjutakn dengan judul "Lost Prince" dan edisi terakhir blm tahu.

Kontroversi Buah Merah


Sejak beberapa tahun yang lalu, buah merah (Pandanus Coneideus) menjadi terkenal karena dianggap mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Penjualan buha merah, yang biasanya berbentuk minyak, menjadi laris manis. Tak tanggung-tanggung, penyakit seperti kanker dan HIV/AIDS pun dikatakan mampu disembuhkan. Semua itu berdasarkan penuturan pasien.


Bila kita mencermati lebih dalam tentang buah merah. Ada beberapa hal yang mengganjal. Buah merah telah "booming" sejak beberapa tahun tapi publikasi ilmiah (juranal) tentang hasil penelitian ilmiahnya masih kurang. Bila kita mencoba mencari di google tentang "buah merah" atau "Pandanus Coneideus", hasilnya minim. Lebih banyak mengenai penawaran produk daripada hasil penelitian. Terdapat satu publikasi ilmiah dari FMIPA UI, hasilnya adalah buah merah tidak memberi efek signifikan.
(ada di http://jurnal.farmasi.ui.ac.id/pdf/2006/v03n03/munim.pdf)


Bila buah merah dapat menyembuhkan berbagai penyakit ganas, mengapa jumlah penelitian maupun publikasi ilmiahnya masih minim? Apakah karena biayanya yang sangat mahal? Bukankah bila teruji ilmiah maka dapat menghemat biaya perawatan penyakit-penyakit ganas yang memakan biaya mahal? Sehingga mahal di penelitian awal tetapi nantinya dapat menurunkan biaya pengobatan pasien.


Masyarakat harus hati-hati dalam menelahan berita dan informasi. Bila tidak, maka penggunaan obat yang kurang jelas dapat membawa dampak memperburuk pasien. Kalau itu sampai terjadi, siapa yang mau bertanggung jawab. Disini dapat kita simpulkan bahwa harus ada perbaikan di sektor kesehatan.

Tuesday, November 13, 2007

Peranan Media dalam Pendidikan Anti-Korupsi

Korupsi telah amat membudaya dalam tata kehidupan bangsa Indonesia. Maka tak heran bila saat ini ada sekitar 12.400 laporan korupsi yang masuk ke meja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pemberitaan di media pun tak kalah banyaknya. Sekarang kita sudah tidak aneh lagi bila mendengar atau membaca kasus tentang pejabat yang menggelembungkan anggaran (mark up), pengusaha yang menyelewengkan dana, pencekalan dan pemerikasaan terkait kasus korupsi.

Maraknya pemberitaan tentang kasus korupsi telah membawa dampak positif bagi pendidikan antikorupsi. Setidaknya terdapat tiga peranan media bagi pendidikan antikorupsi, pertama menimbulkan rasa was-was bagi orang yang hendak melakukan korupsi dikarenakan takut akan hukumannya. Kedua menimbulkan efek jera bagi pelaku korupsi akibat rasa malu yang diterima oleh si pelaku maupun keluarganya. Ketiga mendidik masyarakat untuk dapat mengetahui jenis dan pola korupsi sehingga dapat peka terhadap suatu gejala korupsi.

Media memang memiliki peranan penting dalam proses pendidikan dan penyampaian informasi kepada masyarakat. Dalam hal ini, pendidikan antikorupsi yang selama ini tidak ada dalam mata pelajaran dapat terfasilitasi melalui media massa.

Mengingat pentingnya peranan media dalam pendidikan antikorupsi maka pengembangan-pengembangan perlu dilakukan. Pola pemberitaan korupsi yang selama ini banyak berbentuk hard news dapat diubah menjadi feature sehingga dapat memberikan efek yang lebih mendalam tentang seluk-beluk korupsi kepada para pembaca. Selain itu, perlindungan terhadap wartawan peliput dan media yang memberitakan kasus korupsi perlu untuk ditegakan. Hal ini mengingat peliputan dan pemberitaan terhadap kasus-kasus korupsi berskala besar seringkali tak luput dari bahaya pengerahan premanisme. Tak lupa, peranan media ini perlu untuk dijaga sehingga tidak melenceng dari jalurnya semula. Tak jarang ada wartawan atau media yang malah menggunakan isu korupsi untuk memeras. Menjaga kredibilitas media adalah cara agar dipercayai oleh para pembacanya.

Pendidikan antikorupsi tidak harus dilakukan dalam pendidikan formal. Salah satu alternatif pendidikan antikorupsi yang telah terbukti cukup efektif adalah melalui media massa.