Monday, April 22, 2013

Ujian Nasional, Negeri Pilihan Ganda & Esensi Pendidikan


Ujian nasional 2013 telah menjadi ajang “stress masal” bagi bangsa Indonesia. Dimulai dari murid, orang tua, guru, kepala sekolah, sampai ke level menteri-nya. Semuanya was-was, cemas, stress, tegang menantikan hasil kelulusan. Ini semua bermula dari “visi” menyelenggarakan sebuah ujian dari sabang sampai merauke yang nantinya menentukan kelulusan dengan parameter yang seragam.

Kita semua setuju bahwa dalam suatu proses (dalam hal ini pendidikan), haruslah ada prosess evaluasinya. Dari evaluasi ini, kita bisa melihat sejauh mana keberhasilan peserta didik (siswa) dalam menyerap pelajaran. Evaluasi ini bisa dengan bermacam metode seperti ujian tertulis, ujian lisan, ujian praktek, pengamatan guru dan lain sebagainya.

Permasalahan pertama muncul ketika ujian ini harus dilakukan secara “Nasional”. Indonesia sebagai negara luas, geograifs kepulauan, budaya berbeda dan tingkat infrastruktur yang berbeda. Ketika parameter kelulusan harus diseragamkan secara nasional tidaklah adil dan tidak bermanfaat. Hal ini dikarenakan kebutuhan Sumber Daya Manusia untuk mengolah Sumber Daya Alam-nya di tiap daerah berbeda. Di perkotaan besar, di daerah agraris, di daerah kelautan, semuanya memiliki tuntutan SDM yang unik dan khas. Di daerah agraris misalnya membutuhkan lulusan yang memahami cara2 pertanian. Di kelautan membutuhkan orang yang memahami cuaca, navigasi kelautan dll. Sehingga kebutuhan kurikulum dan bahan ajarnya berbeda tiap daerah.

Selain itu Ujian secara Nasional ini memicu ketidak adilan. Semisal siswa2 dari daerah terpencil minim infrastruktur harus bersaing dengan siswa kota2 besar. Yang didaerah terpencil mungkin ketika musim panen harus “libur” membantu panen orang tua. Sedangkan di kota besar biasanya dijejali soal2 dan PR di sekolah dan bimbel. Bahkan seringkali libur pun tetap dijejali oleh soal2 PR atau tugas. Karena umumnya parameter kelulusannya seputar menjawab soal matematika, bahasa inggris dll. Padahal klo parameter kelulusannya adalah cara menanam padi, siswa dari daerah mungkin nilainya jauh lebih tinggi dari pada yang dari perkotaan.

Lalu bila kurikulum dan bahan ajar berbeda di tiap daerah, bagaimana misal seorang siswa dari daerah A pindah ke daerah B? Tinggal adakan saja “ujian masuk” bagi siswa yang hendak pindah sekolah dari daerah lain. Ujian masuk ini bisa diserahkan ke masing2 sekolah atau dinas pendidikan daerah utk mengadakan bagaimana cara teknisnya dan parameter penilaiannya. Apakah itu melalui ujian tertulis, ujian lisan, ujian praktek, psikotes, besarnya sumbangan orang tua dll. Karena masing2 sekolah atau dinas pendidikan daerah yang lebih mengetahui parameter evaluasi yang dibutuhkan sehingga siswa yang pindah dari daerah lain dapat mengikuti pelajaran di sekolahnya. Sehingga “ujian nasional” ini dibebankan kepada orang yang pindah sekolah secara nasional (antar daerah). Bukan kepada semua siswanya (yang seperti saat ini).

Jangankan antara propinsi/kota/kabupaten, antar Negara pun( yang kurikulumnya, bahan ajar dan bahasa pengantar daerah sudah jelas2 berbeda) bisa diselesaikan. Kalau mau sekolah diluar negeri (terutama S2),biasanya ada persyaratan “penyetaraan” dimana kita di haruskan ikut TOEFL/IELTS utk bahasa inggris atau test SAT dll. Sehingga depdiknas atau dinas daerah membuat semacam “TOEFL” bagi siswa2 yang mau pindah sekolah lintas daerah. Misal di Jakarta utk level SMA “TOEFL”nya harus score 500.


Negeri Pilihan Ganda (PG)

Lalu berpindah ke jenis test UN yang umumnya tes tertulis dan pilihan ganda (PG). Keunggulan dari PG adalah menghapus subjetifitas dari penilai. Bila jawaban yang benar adalah A, ya A, klo jawab B berarti salah. Selain itu, PG salah satu metode memeriksa banyak soal dalam waktu yang singkat. Berbeda dengan soal2 esai yang terkadang subjetifitas si pemeriksa soal bermain (klo lagi moodnya bagus ngasih nilai bagus dan sebaliknya.

Berdasar pengalaman pribadi penulis, penilaian ujian sekolah yang banyak PG. Menimbulkan “mental instan” terutama disebagian kalangan murid (seperti penulis sendiri, sedikit curcol hehehe). Bagi yang cerdik, soal PG dijadikan ajang spekulasi bila kondisi sudah mepet. Ketika tidak tahu jawaban yang benar, cari jawaban yang salah. Jawaban yang gak salah, berarti adalah jawaban yang benar. Kemudian di matematika, jawaban dimasukan ke rumus soalnya dll. Hal ini menimbulkan mental mengakali soal daripada menjawab soal. Praktikum pun kadang jadi malas, toh ujung2nya nanti ujian sekolah adalah pilihan ganda.

Pernah penulis di tingkat2 akhir SMA, mempertanyakan selama ini esensi belajar di sekolah itu untuk apa? Karena sewaktu itu, penulis hanya merasakan hanya jago menjawab pilihan ganda saja. Dulu penulis (sewaktu masih pelajar) sempat memiliki mindset bahwa untuk bisa masuk ke sekolah unggulan itu melalui dua cara. Cara pertama, orang tuanya harus kaya sehingga bisa memberi “uang bangunan” yang besar ke sekolah. Cara kedua, harus jago menyelesaikan soal pilihan ganda. Jago pilihan ganda ini ada beberapa jenis: memang pintar, jago mengakali soal, jago nyontek, atau seseorang yang emang memiliki “Hoki” besar. Kadang orang yang pintar pun klo di lambat mengisi PG, dia bisa terlibas oleh orang cerdik yang menggunakan strategi seperti jangan terpaku pada satu soal yang sulit dan menyita waktu lama dll.

Dan ternyata hidup itu bukan sekedar pilihan ganda. Penulis sempat mengalami kesulitan dengan soal2 kuliah yang lebih mengedepankan utk menjelaskan, tugas2 laporan, praktikum dll. Bahkan setelah saya lulus kuliah, segalanya menjadi terang benderang, bahwa permasalahan hidup tidak bisa diselesaikan melalui pilihan ganda.


Padatnya Pelajaran

Beralih ke bahan ajar, sekarang ini terasa bahwa bahan ajar (terutama di kota2 besar) sangatlah padat dari tahun ke tahun. Klo sempat baca2 buku pelajaran sekarang, rasa2nya yang dulu pelajaran tersebut saya dapatkan di SMP, tapi sekarang rasanya sudah diajarkan di SD. Padahal dulu jaman SMP pun cukup sulit, apalagi sekarang yang harus dipelajari di SD. Saya inget dulu waktu SMP dan SMA (di bandung), materi yang ada di buku pelajaran pegangan dari departemen pendidikan “terlalu simple”. Sehingga guru2 lebih memilih untuk buku pelajaran dari penerbit swasta, yang isi bobot bahan ajarnya lebih mendalam.

Mungkin ini semua bermula dari ketika ujian, semua orang (guru, orang tua, penerbit dll) belomba utk mendapatkan nilai tinggi (melalui les tambahan, buku baru dll). Ketika murid2 tersebut mendapat nilai tinggi, akhirnya mungkin yang membuat bahan ajar (dinas pendidikan), “menaikan/menambah” standar bobot pelajaran. Kemudian siklus berulang dengan guru, penerbit, bimbel dan orang tua yang men-drill para murid agar bisa mendapat nilai tinggi. Setelah berhasil mendapat nilai tinggi, berulang lagi dinas pendidikan menaikan standard. Ujung2nya generasi dibawahnya merasakan beban belajar yang lebih berat. Para murid beban secara stress berlebih, beban terhadap buku2 pelajaran yang berat dan padat, waktu bermain kurang dan lain sebagainya. Orang tua pun “tergerus” dengan biaya mahal buku pelajaran, tambahan les dll. Sebuah siklus yang tak henti-hentinya. Para guru pun kelabakan untuk mengejar bahan aja yang padat.


Esensi Pendidikan

Mengurai tentang makna esensi pendidikan mungkin terlalu berat utk diulas oleh penulis yang bukan seorang filosof. Tetapi melihat kejanggalan-kejanggalan di negeri ini, apakah esensi pendidikan sudah berhasil? Beberapa contoh kasus mungkin bisamenjadi renungan.

Pertama, ketika negeri ini sering dilanda banjir dan longsor. Apakah tidak ada pelajaran yang mengajarkan kalau buang sampah sembarangan dapat menyumpat saluran air. Bahwa ketika pohon2 ditebang dapat menyebabkan longsor. Ketika hutan diganti dengan beton, sulit untuk meresap air.

Kedua, ketika negeri ini banyak yang tertipu oleh investasi priamida, investasi bodong, forex dll. Apakah tidak ada pelajaran matematika dan ekonomi, bahwa mendapatkan keuntungan yang bombastis bin fantastis itu too good to be true. Apakah tidak ada pelajaran sejarah, bahwa penipuan ini sudah berulang-ulang-ulang-ulang terjadi. Dari mulai zaman ponzi, QSAR, koperasi langit biru, emas bodong dll. Bukti ketika pelajaran sejarah itu hanya hafalan tanggal, nama dan tempat, tanpa menganalisis makna dibalik sejarah tersebut.

Ketiga, ketika orang2 mempunyai uang yang pas2an. Rata2 orang Indonesia lebih senang “membakar” uang tersebut dan dihisap asapnya, daripada dibelikan makanan yang bergizi atau buku pelajaran untuk anaknya.

Keempat, ketika setelah selesai UN. Banyak siswa yang malah tawuran dan corat-coret. Kelima, Ketika, kasus penipuan blue energy Joko suprapto. Apakah gak diajarkan fisika? Keenam, tiadanya budaya antri. Ketujuh-kedelapan dan seterusnya.

Menurut penulis, setidaknya bangsa ini memandang pendidikan itu untuk mengejar strata sosial ikut andil dalam kesemerawutan dunia pendidikan. Kita lihat di undangan nikah atau sunat, gelar pendidikan dipampang di kartu undangan (ini mau nikahan atau mau ngadain konferensi ilmiah). Mungkin peralihan dari budaya masa lampau kalau dulu orang2 bangga pakai gelar Raden (sekarang mungkin dianggap sudah kuno). Padahal kalau kita membaca nama peneliti di jurnal paper luar negri, belum tentu (kebanyakan) tidak menyebutkan gelar2an. Jadi paper dinilai oleh kedalaman isi dari penelitian bukan dari gelarnya si peneliti.


Solusi Edan-Eling

Di jaman edan (gila), orang eling(waras)-lah yang dianggap edan (gila). Ketika dunia pendidikan sudah carut-marut, apakah kita ikut bercarut-marut ria? Keberanian menentang mainstream, keberanian untuk think out of the box diperlukan. Syukur-syukur kalau bangsa Indonesia mendapatkan mentri yang berani berkata stop pada rantai kesemerawutan pendidikan. Tapi kalau tidak mendapatkan menteri seperti itu, minimal kita2 adalah agen perubahan untuk keluarga/anak masing2.

Jangan biarkan anak kita (seperti halnya anak orang2 lain) terlalu banyak diberi beban (stress) di drill pelajaran2 yang padat. Ke sekolah macet2an, pulang sekolah macet2an ke tempat les. Nyampe rumah tinggal capek. Pelajaran menjadi suatu mimpi buruk bagi siswa, hanya merupakan hafalan2. Anak berkompetisi OK, tetapi yang wajar saja. Gak perlu membebani anak untuk lulus ujian nasional, karena takut jadi omongan tetangga dll, sehingga klo gak lulus serasa dunia ini runtuh.

Jangan biarkan juga kita menganggap bahwa pendidikan adalah hanya di sekolah (formal). Di rumah pun adalah sarana pendidikan. Mulai dari anak belajar mandiri, belajar budi pekerti sampai ke belajar Matematika, IPA dll.

Hilangkan mindset kita bahwa belajar itu adalah guru ketemu murid. Semisal menonton National Geographic, Discovery Channel, BBC Knowledge dan Animal planet juga bisa menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan. Kita bisa mempelajari berbagai jenis ekosistem, rantai makanan, habitat melalui tayangan documenter hewan2. Bisa belajar sosiologis dan budaya berbagai masayrakat dunia. Bisa belajar sejarah dan penemuan2 penting para ilmuwan dunia dll. Update perkembangan teknologi dan lainnya. Kadang saya lebih mengerti makna sejarah dengan menonton film documenter dari pada dulu belajar buku sejarah yang lebih menekankan pada tanggal, tempat dan orang.

Metode belajar lain seperti berkebun di rumah sambil mengamati jenis2 pohon (monokotil, dikotil dll). Di dapur belajar masak sambil belajar fisika, air panas berubah menjadi uap. Kemudian jalan2 ke kebun binatang mengenal jenis2 hewan (karnivora, herbivore dll). Ke museum dll.

Intinya anak kita bimbing untuk lebih “memahami” daripada hanya sekedar “menghafal” pelajaran (yang kemudian lupa beberapa hari kemudian setelah ujian). Dan tanggung jawab pendidikan itu bukan hanya di sekolah (formal) tetapi juga di rumah dan lingkungan (informal).



No comments:

Post a Comment

Please feel free to leave your comment. Do not include violence, adult content, spam message, racism in the comment. The comments will be soon published after the author of this blog makes the moderation. Thank you in advance for visiting this blog. Best regards from the author.