Friday, April 19, 2013

Quiz: Zakat Maal (Diskusi Zakat Profesi, Ekonomi dll)

Penulis akan mencoba mengajak bersama-sama “berpikir” tentang mengenai Zakat Maal. Terutama mengenai seputar “zakat kepemilikan” dan “zakat profesi”. Untuk mempersingkat tulisan ini, ayat2 tentang dasar zakat dapat di search di google atau Wikipedia. Tulisan ini mengajak para pembaca utk sama2 kita “memikirkan” dari permasalahan zakat dan pengaruhnya pada system perekonomian secara makro.


Sebelum lanjut ke pembahasan, Beberapa poin yang kita coba samakan persepsi-nya adalah:
1.Berjalan 1 tahun ( haul ), Pendapat Abu Hanifah lebih kuat dan realistis yaitu dengan menggabungkan semua harta perdagangan pada awal dan akhir dalam satu tahun kemudian dikeluarkan zakatnya.
2.Nisab zakat, perdagangan sama dengan nisab emas yaitu 20 Dinar atau senilai 85 gr emas
3.Kadarnya zakat sebesar 2,5 %

Secara singkat dan sederhana (secara rumit silahkan baca buku2 atau googling) pada “Zakat profesi” ini terdapat dua pendapat dari para alim ulama. Padangan pertama adalah dari para Ulama2 “klasik” yang berpendapat bahwa wajib hukumnya berzakat bila haul dan nisab-nya telah terpenuhi.

Sedangkan dari para ulama “kontemporer” berpendapat bila seseorang pendapatannya (atau ada juga yang pendapatan dikurangi kebutuhan pokoknya) sudah mencapai nisab dalam setahun. Maka dia wajib berzakat walau “pendapatnya” itu belum haul. Umumnya “pendapat” mereka salah satu contoh dasarnya adalah membandingkan profesi petani dan profesi2 seperti dokter/pengacara/karyawan. Seorang petani, wajib mengeluarkan zakat bila hasil panen-nya mencapai nisab, tanpa adanya haul. Sedangkan seorang dokter/pengacara/karyawan yang umumnya memiliki pendapatan yang lebih besar daripada petani masa tidak mengeluarkan zakat padahal secara nisab-nya sudah terpenuhi. Salah satu ulama yang berpandangan terhadap hal ini adalah Yusuf Qardawi.

Yang penulis tangkap (CMIIAW) dari perbedaan pandangan antara para Ulama Klasik dan Kontemporer ini adalah pada letak haul. Ulama klasik berpendapat zakat profesi tetaplah tidak ada yang ada adalah zakat ttg kepemilikan emas dan perak. Jadi bila misal seorang dokter spesialis di rumah sakit ternama Jakarta, banyak pasiennya, dan penghasilannya besar; bila dia memiliki pengeluaran kebutuhan hidup yang besar juga (standar kebutuhan hidup orang itu berbeda ada yang cuman sandang-pangan-papan; ada juga yang iphone dan wisata ke bali merupakan kebutuhan hidup). Sehingga sisa pengeluaran diakhir bulannya hanya sedikit yang bila mana dikumpulkan maka tidak mencapai nisab dan haul, maka dia tidak wajib mengeluarkan zakat. Karena pada dasarnya tidak ada yang namanya zakat profesi (jaman dulu pun ada profesi seperti pandai besi, tetap saja tidak dicontohkan zakat profesi).

Sedangkan ulama kontemporer, terhadap contoh dokter spesialis di atas, si dokter sudah wajib mengeluarkan zakat. Tanpa menunggu haul. (gak adil dong, kan petani susah payah panen, bila hasil panen mencapai nisab, maka petani tersebut langsung wajib zakat tanpa menunggu haul).

Pada awalnya penulis menjalankan konsep zakat para ulama kontemporer. Tetapi seiring terlibat dalam sebuah seminar, yang dimana pengisinya adalah dari pandangan ulama klasik. Penulis menjadi lebih condong (setuju) terhadap pandangan para ulama klasik. Hal ini di dasarkan oleh beberapa hal.

Pertama, zaman rasulullah sudah ada berbagai macam profesi (semacam pandai besi). Tetapi zaman dulu si pandai besi tidak wajib mengeluarkan Zakat profesi. Pandai besi pun masih ada jaman sekarang, bermacam2 dari mulai tukang las pagar sampai engineer metalurgi diperusahan besi-baja ternama (Krakatau steel dll). Sehingga pandai besi zaman sekarang pun tidak wajib mengeluarkan zakat profesi karena tidak ada contohnya.

Kedua, ulama kontemporer “menyamakan” pajak penghasilan dengan zakat profesi.

Ketiga, penulis pernah merasakan mendapatkan penghasilan besar (dibanding rata2 orang indonesia) ketika mendapat beasiswa Erasmus Mundus. Tetapi juga pengeluarannya besar dikarena biaya akomodasi, transportasi (tiket pesawat dll), beasiswa utk satu orang tapi harus membiayai juga istri dan lain sebagainya. Penghasilan besar pun ternyata sisanya mepet.

Keempat, penulis merasa bahwa “esensi” dari zakat emas dan perak adalah “menggerakan ekonomi”. Dimana seseorang bila menyimpan harta yang mencapai nisab dan dibiarkan “mengendap” selama setahun (haul). Maka dia akan dikenakan “denda”. Dimana “denda” ini mendorong orang-orang untuk membelanjakan harta, dimana harta2 yang dibelanjakan akan menghasilkan lapangan pekerjaan bagi orang2 lain. Sehingga kemakmuran akan terdistribusi melalui belanja (jual-beli). Dalam jual-beli, seseorang memiliki kedudukan sama dalam martabat social.

Kelima, Jual beli itu bisa berupa barang dan jasa. Dan "profesi" pada prinsipnya merupakan jual-beli jasa. Jual beli barang bisa ke perorangan (ke warung) atau ke badan usaha (supermarket). Begitu pula dengan jual beli jasa, bisa ke perorangan (semisal satpam, dokter praktek pribadi) atau ke badan hukum (perusahaan keamanan, rumah sakit). Dan "profesi" merupakan jual-beli jasa perorangan.

Berbeda dengan ulama kontemporer dengan zakat profesinya, menurut penulis dengan zakat profesi maka kemakmuran akan didistribusikan antara pihak si Wajib Zakat dan si Penerima Zakat. Penulis yakin bahwa seseorang akan lebih merasa terhomat apabila pendapatannya/kemakmurannya didapatkan melalui hasil kerja ketimbang meminta-minta. Sehingga “esensi” atau “imbas” dari definisi Zakat maal versi ulama klasik adalah masyarakat didorong utk sama2 berpartisipasi menggerakan ekonomi (serta lebih tahan terhadap resesi).

Selain melalui Zakat dan Jual-beli, “kemakmuran” dapat pula berpindah melalui infak/shadaqah

Poin pertama, keempat dan kelima adalah alasan utama mengapa penulis merasa bahwa pendapat/pandangan para ulama klasik lebih sesuai. Tulisan ini dibuat sebagai sharing pandangan penulis terhadap apa yang penulis pahami (tapi belum tentu apa yang dipahami adalah sama dengan apa yang dijalankan). Bilamana ada pembaca yang dapat memberikan pandangan/pendapat lainnya, penulis akan sangat menghargai pandangan tersebut. Sehingga penulis dapat lebih komprehensif melihat masalah zakat ini dari berbagai sudut pandang. Karena sesungguhnya penulis pun masih belajar dan banyak kekurangan.

Dan semoga perbedaan pandangan dikalangan para ulama tentang ketentuan zakat maal (Zakat profesi ini), tidak membuat perpecahan diantara umat Islam.

Penulis mengadakan semcam “Quiz” sebagai bahan diskusi yang diamana diskusi ini nantinya dapat utk menyamakan persepsi ttg zakat mal dan esensi ekonomi dalam islam. (Hint: think out of the box, Quiz tidak disarankan bagi yang sedang lieur/pusing).

Quiz 1
Misal seorang pengusaha rental mobil (kalau jaman dulu pengusaha delman). Memiliki pendapatan (sales) 100 juta rupiah setahun. Pengeluaran utk operasional mobil (bensin, ganti oil, cuci mobil, biaya garasi, service rutin, upgrade dll) selama setahun adalah 98 juta rupiah. Keuntungan 2 juta rupiah ini digunakan untuk keperluan rumah tangga-nya. Sehingga sisa harta selama setahun adalah 0 rupiah. Berapakah si pengusaha mobil harus bayar zakat? Mengapa?
A. 100 juta rupiah x 2,5%
B. 2 juta rupiah x 2,5%
C. 0 juta rupiah


Quiz 2
Misal seorang engineer metalurgi (pandai besi) dia merentalkan “tubuh” (ilmu sarjana-nya, ngetik computer, meeting; kalau jaman dulu kan pandai besi itu ngetok2 besi panas pakai palu) ke sebuah perusahaan (sebagai karyawan). Pendapatan setahun (gaji) adalah 100 juta rupiah. Pengeluaran utk “operasional” si “tubuh” selama setahun adalah 98 juta (bensin=makanan, garasi = cicilan KPR rumah, service rutin = hiburan dll). Ingat kebutuhan manusia sebagai makhluk hidup itu ada primer sekunder dan tersier. Contoh kebutuhan primer makhluk hidup (coba cek di pelajaran biologi SMP, dulu saya ingetnya diajarinnya di SMP) antara lain kebutuhan makan, minum, bernafas, merasa aman, melangsungkan keturunan dll. Sehingga istri dan anak merupakan kebutuhan primer alami manusia sebagai makhluk. Sehingga sisa hartanya selama setahun adalah 2 juta rupiah (per bulan 167ribu rupiah). Berapakah si andai besi harus bayar zakat? Mengapa?
A. 100 juta rupiah x 2,5%
B. 2 juta rupiah x 2,5%
C. 0 juta rupiah



Quiz 3
Seseorang dapat durian “runtuh”. Misal tiba2 dapet bonus besar dari perusahaan, atau nolong kakek2 nyebrang jalan ternyata kakek tsb seorang yang kaya raya dan ngasih harta (atas imbalan menyebrangkan jalan) sangat banyak pada si Fulan atau yang lainnya. Si Fulan2 ini kebetulan mau nyimpen “harta” tersebut selama 3 tahun. Dimana setelah tiga tahun akan seluruh harta tersebut akan dijual dan digunakan untuk membiayai anaknya yang mau kuliah Arsitek di London.

Fulan A. Mendapat berbagai mobil mewah semacam Mercedes, lamborgini, perari, prosche, apanza dan esemka. Karena fulan A tidak bisa nyetir mobil, mobil2 tersebut tersimpan 3 tahun dalam garasi.

Fulan B. Mendapat rumah mewah 500 m2 dan tanah 20 hektar (Sertifikat Hak Milik, IMB dll) dikawasan sudirman Jakarta. Karena si Fulan kerja di bandung rumah tersebut dibiarkan (gak dikontrakan), paling ditungguin ama satpam.

Fulan C. Mendapatkan apartemen mewah (Hak Guna Bangunan, ) seluas 400 m2 dikawasan kuningan Jakarta. Karena si Fulan kerja di semarang, apartemen tersebut dibiarkan (gak dikontrakan), paling ditungguin ama cleaning service

Fulan D. Mendapatkan salah satu lukisan paling terkenal di dunia, lukisan monalisa karya Leonardo davinci. Lukisan tersebut dipajang di rumahnya selama tiga tahun untuk hiasan rumah pribadi.



Fulan E. Mendapatkan banyak “lukisan kecil” pada kertas khusus yang bergambar pahlawan2 indonesia. “Lukisan” tersebut dicap dan tanda tangain secara resmi oleh gubenur bank Indonesia, memiliki nomor seri dll. Selain itu, lukisan2 kecil tersebut memiliki nominal angka2 yang bila dijumlahkan mencapai 1 juta (baca uang satu juta rupiah). Uang tersebut ditaruh di brangkas rumahnya.



Fulan F. Mendapatkan banyak “lukisan kecil” pada kertas khusus yang bergambar pahlawan2 indonesia. “Lukisan” tersebut dicap dan tanda tangain secara resmi oleh gubenur bank Indonesia, memiliki nomor seri dll. Selain itu, lukisan2 kecil tersebut memiliki nominal angka2 yang bila dijumlahkan mencapai 1 triliyun (baca uang satu triliun rupiah). Uang tersebut ditaruh di brangkas rumahnya.

Fulan G. Mendapatkan scanner dan printer super duper canggih. Karena kebetulan si fulan ini seorang graphic desainer dan pernah kerja di Bank Indonesia. Akhirnya perlataan tersebut digunakan untuk mencetak 1 triliyun rupiah. Hasil cetakannya sama persis dengan apa yang dicetak oleh bank Indonesia.

Fulan H. Mendapatkan buku tabungan bank BCA isi saldonya satu triliun rupiah.

Fulan I. Mendapatkan deposito/reksadana/asuransi investasi isi saldonya satu triliun rupiah. Tetapi utk investasi jangka panjang selama 30 tahun. Tetapi kalau dicairkan dalam tiga tahun maka hanya bernilai satu juta rupiah.

Fulan J. Mendapatkan emas murni 10 kilogram dan perak murni 1 ton (atau minimal 99% murni). Disimpan di brangkas rumah.

Fulan2 tersebut menyimpan harta-harta yang didapatkan tersebut. Dan setelah satu tahun (sudah haul), siapakah saja yang wajib mengeluarkan zakat? Mengapa?

No comments:

Post a Comment

Please feel free to leave your comment. Do not include violence, adult content, spam message, racism in the comment. The comments will be soon published after the author of this blog makes the moderation. Thank you in advance for visiting this blog. Best regards from the author.