Wednesday, April 3, 2013

Energi Sebagai Penggerak Ekonomi

Bila membaca berita2 seputar dunia migas dan konstuksi di Indonesia. Nampak jelas bahwa saat ini sedang dan akan gencar2nya proyek skala besar yang mencapai investasi CAPEX milyaran dolar amerika. Dimulai dari proyek2 lepas pantai di lautan dalam (deepwater) seperti IDD, Jangkrik, Masela [1] [2]. Maupun proyek2 onshore seperti diantaranya pengembangan CPP dan LNG Plant di Donggi-Senoro-Matindok di Sulawesi Tengah [3] [4] [5] [6], Dan Tangguh train 3 Papua Barat [7].
Pengmbangan di sektor hulu migas membawa juga gairah investasi di sektor olahan-nyas yakni industri sektor Petrokimia dan Pupuk. Investasi CAPEX-nya pun juga besar diatas USD 500 juta. Proyek2 tersebut diantaranya Pusri IIB di Palembang [8], Pabrik amoniak PAU di Luwuk [9], Pabrik Petrokimia Ferrostaal di Papua Barat [10]
Belum lagi rencana2 proyek di sektor pembangkitan listrik utk memanfaatkan gas alam yang skala projetnya dapat mencapai puluhan dan ratusan juta dolar, diantaranya di Arun, Jateng dll [11] [12]
Selain proyek dan rencana proyek yang disebutkan diatas, tentunya masih banyak proyek2 lainnya (Proeyk di sektor mining, infrastruktur industry dll). Bila dibandingan sekitar 5 tahun kebelakang. Tentu jumlah dan skala proyek yang tersedia saat ini sangat jauh lebih besar dan banyak.
Banyaknya proyek tersebut mengakibatkan tingginya demand SDM untuk melaksanakan berbagai proyek tsb. Tentunya benefit instan yang dirasakan oleh orang2 yang bekerja di sektor jasa konstruksi EPC (Engineering, Procurement, Construction) bidang migas dan petrokimia adalah banyaknya tawaran peluang kerja disektor ini [13] [14]. Tak lupa sambil bernegosisasi utk memperbaiki “rate” masing2 (hehehehe... ). Tetapi penulis bermaksud membahas lebih dari (beyond) sekedar masalah interview dan negosisasi memanfaatkan situasi saat.

Efek Bola Salju Pertumbuhan Ekonomi
Bila melihat investasi besar2an yang masuk saat ini, sedikit banyaknya akan memberikan kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi. Ketika saat ini Indonesia sedang menikmati pertumbuhan ekonomi diatas 6% [34] [35]

Prediksi penulis bahwa dalam 5 tahun kedepan, angka pertumbuhan tersebut masih reliable utk dipertahankan (dengan beberapa catatan tentunya).
Nilai investasi milyaran dolar CAPEX proyek yang ada saat ini menurut penulis hanyalah awalan dari bola salju yang akan menggelinding membesarkan perekonomian nasional. Sektor perekonomian lainnya seperti jasa transportasi, logistik, manufaktur dan lainnya akan mendapatkan efek positif baik langsung dan tak langsung.
Contohnya di sektor transportasi, lapangan migas yang terletak di seantero Indonesia membutuhkan mobiliasi orang untuk mencapai daerah tersebut. Efek langsungnya Peluang dalam transportasi ini nampaknya sudah di tangkap oleh salah satu pengusaha nasional (Rusdi kirana) melalui Lion Air-nya [36]
Efek tak langsung pun juga terasa. Banyaknya middle class society menyebabkan, sekarang kesulitan untuk mencari Assisten Rumah Tangga (ART). Sehingga beberapa rekan saya pun mendatangkan jasa ART pun antar pulau menggunakan pesawat terbang.

Local Content
Kebijakan pemerintah dalam menggalakan TKDN / Local content [37] [15] patut mendapatkan apresiasi yang baik.
Untuk industri/manufaktur penunjuang utk barang2 konstruksi migas. Menurut pengamatan penulis beberapa sektor yang telah berprestasi dalam memenuhi kebutuhan local conent ini adalah Industri Semen. Ditandai dengan banyaknya investasi pembuatan pabrik2 semen baru [16] [17] utk memenuhi rasa lapar pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sehingga rasa2nya tidak terdengar berita Indonesia mengimpor semen. Bahkan industry semen Indonesia sudah melancarkan sayapnya ke luar negri [18]. Penulis memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pencapaian swasembada semen ini.
Sektor lain seperti fabrikasi (tanki, vessel, pipe spool, modul, struktur dll) dan galangan yang tersebar di batam, cilegon, Surabaya, balikpapan dll. Rasanya telah menangkap peluang ini.
Catatan khusus penulis berikan pada sektor metal/logam. Walaupun sudah ada beberapa industri metal yang bergerak dalam sektor ini (terutama Krakatau Steel). Dari pengamatan penulis, sektor ini belum mampu menangkap peluang/opportunity yang ada. Padahal dalam sektor migas dan petrokimia, metal/logam (metal dalam bentuk plat, bar, tubular, casting, forging dll) adalah bahan penting. Sehingga kekurangan atau gap market ini banyak diambil dari produk2 buatan mulai Jepang, Korea, China dan India.
Sebagai contoh adalah pemenuhan kebutuhan produk logam/metal seperti seamless pipe/tubular, pipe fittings dan valve/katup. Untuk grade dasar seperti carbon steel (baja kabon). Sebagian besar masih impor. Kalaupun ada dari dalam negeri kadang secara price, delivery dan quality kurang kompetitif dibandingkan impor. Ironisnya disektor manufaktur otomotif, kemampuan manufaktur di Indonesia sudah sangat maju. Bahkan anak SMK pun kini sudah bisa bikin mobil [19].
Padahal mobil di Indonesia (minimal di Jakarta dan sekitarnya) sudah sangat jenuh a.k.a macet pisan euy. Alangkah baiknya sebagian dari sumber daya otomotif (baik itu sumber daya manusia, dana dll) ini beralih kepada memenuhi kebutuhan kebutuhan logam/metal di sektor migas dan petrokimia (SDM, dana, market dan kebijakan ada, tinggal apalagi?)
Untuk sektor penyedianan hi-tech dan high precision rotating/machinery dan instumentasi/control. Mungkin masih nanti, disebabkan memasuki sektor ini memerlukan R&D yang banyak serta market yang cukup niche, sehingga resiko investasi cukup tinggi bila dimasuki.


Lapangan kerja & Pengembangan SDM
Efek bola salju pertumbuhan ekonomi ini membawa impak positif pada peluang ketersediaan lapangan kerja baru. Seperti yang telah penulis sampaikan diatas, bahwasanya saat ini sedang tinggi2-nya demand SDM di sektor proyek migas. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri dari beberapa orang yang mulai beralih utk bekerja di sektor ini, mengingat peluang cukup lebar utk mendapatkan upah diatas rata2 UMR buruh.
Yang penulis amati saat ini di sektor SDM adalah adanya gap antara kualifikasi yang dibutuhkan oleh sektor proyek migas dengan kualifikasi lulusan yang tersedia. Permasalahan ini muncul karena mungkin kita telah salah mempredikisi kebutuhan Sumber daya manusia. Beberapa solusi yang penulis tawarkan antara lain.
Pertama, dimulai dari kordinasi antara kementrian terkait ESDM, Perindustrian dengan Pendidikan tentang proyek2 kedepan beserta gambaran kira2 kebutuhan sumber daya manusianya. Kemudian diinformasikan pada anak2 sma dalam pemilihan jurusan. Sehingga terjadi pemerataan kebutuhan tenaga kerja di semua sektor. Sehingga tidak terjadi booming di suatu jurusan yang mengakibatkan ketika sudah lulus malah lapangan kerjanya jenuh.
Kedua, komunikasi yang intens antara Universitas dengan alumni-nya. Sehingga realita kebutuhan tenaga kerja bisa selaras dengan kurikulum. Para alumni bisa memberikan masukan update kurikulum.
Ketiga, menumbuhkan semangat teknokrat/engineer. Dalam menjalankan proyek migas, semua aspek disiplin keilmuan dibutuhkan dalam menjalankan bisnis ini. Tetapi tetap, core value yang utama adalah engineering. Sehingga kebutuhan mencetak engineer di Indonesia adalah suatu hal yang tidak dapat ditawar. Dulu Indonesia rasanya memiliki “Habibie effect”, dimana beliau menjadi rolemodel generasi muda dalam mendalami bidang keinsinyuran. Tetapi penulis perlahan melihat bahwa kini hal tersebut mulai terkikis. Penulis beranggapan hal ini tercemin dalam tayangan yang ada televisi. Sekarang tayangan televisi ada acara sinetron, lawak, olahraga, kuliner/masak, talkshow hukum, talkshow ekonomi, politik. Tetapi masih minim acara yang menampilkan/membahas sains maupun engineering. Penulis mengusulkan agar bangsa ini memiliki stasiun TV seperti NatGeo[20] atau Discovery Channel [21] yang menampilkan porsi utk acara2 yang ttg sains dan engineering. Acara2 seperti “How its made” [22], “How do they do it” [23], “Modern Marvels” [24], dll dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap dunia engineering.
Keempat, banyaknya sektor ini menyerap lapangan kerja bila tidak diantispasi dapat berakibatkan kekurangan sektor SDM disektor lainnya, terutama sektor yang dianggap tidak “basah” (seperti pertanian dll). Sehingga pengembangan SDM kedepannya, penulis setuju dengan pernyataan SBY bahwa era buruh murah sudah usai [25] [26]. Sektor2 seperti garmen, agraria dll harus dimodernisasi dengan alat2 otomatis sehingga pekerja di sektor ini memiliki rasio upah vs produktifitas yang kompetitif juga. Bayangkan bila orang berlomba-lomba tidak menjadi petani karena upah yang didapatkan disana “kering”, padahal sektor pertanian merupakan pilar ketahanan pangan nasional.

Middle Class Society Booming
Tawaran THP yang diatas UMR membuat banyak orang yang berminat melanjutkan karir di bidang proyek migas. Efeknya adalah orang2 yang bekerja dibidang berhubungan dengan ini setidaknya masuk dalam middle class society di Indonesia. Menyikapi hal ini, ada beberapa hal yang patut diantisipasi.
Pertama, kemampuan financial kelas masyarakat ini setidaknya membuat para kreditur menjadikan pasar yang menggiurkan. Tetapi yang perlu diwaspadai adalah terjadinya Bubble yang diakibatkan approval kredit yang terlalu mudah. Karena dapet menuju ambruknya perekonomian akibat masyarakatnya terlalu konsumtif. Sebuah quote bagus dari Karl Mark, Das Kapital & Depresi Ekonomi " owners of capital will stimulate the working class to buy more and more of expensive goods, houses and technology, pushing them to take more and more expensive credits, until their debt becomes unbearable. The unpaid debt will lead to bankruptcy of banks, which will have to be nationalized and the state will have to take the road which will eventually lead to communism" Karl Marx Das Kapital 1867
Kedua, perubahan demografi kemampuan financial masyarakat sedikit banyaknya akan mempengaruhi pola konsumsi masyarakat tersebut. Sebagai contoh mungkin adalah semakin tingginya demand kebutuhan daging sapi yang sedikit banyaknya disebabkan oleh makin banyaknya middle class society ini.

Keamanan & Pertahanan
Secara keamanan regional, Indonesia dikawasan yang cukup aman. Tidak berada di kawasan yang rawan konflik regional seperti di korea (nuklir), timur tengah (Israel & arab spring) dll. Hal ini sangat positif bagi pertumbuhan bangsa. Kendala terbesar saat ini adalah dari internal bangsa Indonesia itu sendiri.
Pertama adalah konflik sesame elemen bangsa Indonesia baik itu di masyarakat maupun aparat. Mulai isu pilkada, konflik solidaritas antara aparat Negara, tawuran pelajar, isu kesukuan, agrarian dan masih banyak lagi.
Kedua adalah serangan penyakit masyarakat seperti narkoba, miras illegal, perjudian dll. Penyakit masyarakat tersebut dapat merusak kualitas SDM manusia kedepannya.
Bila kedua permasalahan diatas tidak diatasi, yang merasakan kerugiannya adalah bangsa kita sendiri. Berkaca dari negara2 yang kaya akan sumber daya alam (migas, mineral, hutan dll) tetapi rawan konflik. Sumber daya alamnya pun akan terus disedot contohnya adalah Nigeria dan Iraq yang kaya akan migas. Tetapi karena Negara tersebut sedang konflik maka benefit untuk rakyatnya hanya sedikit. Sehingga konflik yang kita ciptakan karena egoisan diri kita hanya akan merugikan diri kita sendiri.

Sustainable Growth
Derasnya investasi saat ini, penulis anggap mirip dengan apa yang pernah dialami Negara ini. Mirip saat era Soeharto membuka keran investasi di Indonesia. Menyikapi hal ini seyoganya kesalahan terdahulu tidak kita ulangi lagi.
Mau tak mau saat ini kita harus mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi masih bertumpu pada kekayaan sumber daya alam yang kita miliki. Kita masih belum seperti jepang, korea, Taiwan, jerman, belanda, singapura dll dimana mereka minim sumber daya alam tetapi sumber daya manusia, kemampuan teknologi, industry dan perdagangannya mampu menjadi tumpuan pendapatan Negara. Celakanya kita umumnya bertumpu (terutama di sektor energy) pada sumber daya alam non renewable seperti minyak, gas dan batubara. Bila SDA non-renewable tersebut sudah habis, apa yang akan kita lakukan?
Penulis jadi ingat pengalaman perjalanan tahun lalu ke kota Lhokseumawe di Aceh [27] [28]. Pada 1970an kala ditemukan cadangan gas yang sangat besar, perekonomian di sana tumbuh besar. Ditandai dengan PT Arun sebagai kilang pengolahan gas. Gas tersebut digunakan sebagai ekspor dan sebagian lagi untuk menghidupi pabrik2 seperti 3 pabrik pupuk (Pupuk Iskandar muda 1 & 2, Aceh Asean Fertilizer), pabrik kertas Aceh dll. Bahkan PT Arun ini pada 1990 sempat menjadi pusat penghasil LNG terbesar di dunia [29]. Tetapi setelah 40 tahun dikuras, kini pasokan gas didaerah tersebut sudah hampir habis. Kilang dan industry disekitarnya sudah tidak berjalan full capacity, dan industry pupuknya dan industry lainnya hampir mati karena kekurangan pasokan gas. Sehingga kini pemerintah merencanakan untuk mengimpor gas dalam bentuk LNG utk keperluan industry di Lhokseumawe. Ironis memang bila mengingat bahwa dulunya adalah salah satu daerah penghasil LNG terbesar.
Maka untuk sustainable growth ini, kita memerlukan roadmap rencana energy dan perekonomian utk mengantisipasi habisnya cadangan minyak ke depan. Sebagai contoh, negara2 kaya minyak dan gas seperti Uni Emirates, Bahrain dan Qatar telah mulai mempersiapkan dirinya dari sekarang mengantisipasi habisnya cadangan migas mereka. Dengan profit migas yang sangat banyak, mereka tidak lupa menginvestasikan pada: Pertama, Low Cost Airline [30] [31] mengingat lokasi negara2 tersebut strategis diantara tiga benua (Eropa, Afrika dan Asia). Kedua, investasi dilakukan pada sektor pariwisata.
Ketika Indonesia dulunya menikmati ekspor minyak yang banyak pada tahun 1980an s/d 1990an. Kini sedang beralih pada gencar2nya produksi gas alam yang melimpah. Dan predikisi penulis, mungkin hanya 30 tahunan saja kita bisa menikmati limpahan gas alam tersebut. Sehingga dari sekarang kita harus mempersiapkan transisi yang mulus tentang sumber energy primer selanjutnya. Jangan sampai beberapa kesalahan yang pernah dialami bangsa ini ketika hendak transisi terulang. Pertama, ketika hendak pindah ke bahan bakar nabati (pohon jarak). Kedua ketika saat ini kita telat utk transisi sumber energy primer dari minyak ke gas, dimana infrastruktur penerimaan gas untuk kebutuhan dalam negri masih banyak yang belum siap.
Menurut prediksi penulis, sumber energy yang ready utk dipanen setelah gas alam. Adalah batu bara dan geothermal. Kendala batubara kita yang rendah kalor dapat kita olah dengan beberapa cara utk menaikan kadar kalorinya antara lain dengan Coal Liquefaction/Slurry [32] maupun Coal Gasification [33]. Kemudian setelah era batu bara dan geothermal, hasil pengamatan penulis transisienergy masa depan selanjutnya di Indonesia adalah nuklir, tenaga surya sel photovoltaic, dan biomassa. Menyiapkan sumber daya manusia dan infrastruktur menuju transisi tersebut perlu perencanaan matang dan kerja sama dari semua pihak. Sektor energy ini kita jaga agar kita tidak berhenti utk membangun, karena menurut penulis: Energi merupakan penggerak Ekonomi.

Referensi

[1] http://www.esdm.go.id/news-archives/oil-and-gas/47-oilandgas/5479-three-deepwater-projects-are-the-future-gas-production-reliability.html


[2] http://www.2b1stconsulting.com/eni-and-gdf-suez-call-for-tender-on-2-billion-jangkrik/

[3] http://www.tender-indonesia.com/tender_home/innerNews2.php?id=16466&cat=CT0008

[4] http://www.pertamina-ep.com/id/warta-pep/2012/11/22/pertamina-ep-kerjasama-dengan-rekayasa-industri-bangun-fasilitas-produksi-gas-d

[5] http://www.migas.esdm.go.id/tracking/berita-kemigasan/detil/271900/0/Gas-Matindok-Mengalir-ke-Donggi-Senoro--Pertamina-EP-Bakal-Menganggarkan-US$300-Juta-Tahun-Ini-Untuk-Kegiatan-Eksplorasi

[6] http://www.jgc.co.jp/en/01newsinfo/2011/release/20110125.html

[7] http://www.ogj.com/articles/2012/11/indonesia-approves-train-3-expansion-of-tangguh-lng.html

[8] http://pupuk-indonesia.com/en/latest-news/321-rekind-toyo-consortium-wins-tender-for-pusri-iib-urea-plant

[9] http://www.tender-indonesia.com/tender_home/innerNews2.php?id=18402&cat=CT0011

[10] http://www.tempo.co/read/news/2013/03/05/090465255/Ferrostaal-Bangun-Pabrik-Petrokimia-di-Papua-Barat

[11] http://pmeindonesia.com/berita-migas/896-pemerintah-alokasikan-lng-untuk-fsru-jateng-jakarta-banten-dan-aceh

[12] http://www.pertamina.com/NewsPageDetail.aspx?act=NewsUpdate.aspx&id=830

[13] http://www.petromindo.com/job.php

[14] http://finance.groups.yahoo.com/group/lowongan_migas/

[15] http://finance.detik.com/read/2012/12/26/095711/2126633/1034/tkdn-hulu-migas-2012-capai-us--85-miliar

[16] http://www.kemenperin.go.id/artikel/4535/Tiga-Pabrik-Semen-Baru-Dibangun-Tahun-Ini

[17] http://www.antaranews.com/berita/364624/thyssenkrupp-jerman-akan-bangun-pabrik-semen-holcim-di-indonesia

[18] http://www.tempo.co/read/news/2013/03/25/092469237/PT-Semen-Indonesia-Ekspansi-ke-Myanmar

[19] http://www.mobilsmk.com/

[20] http://www.nationalgeographic.com/

[21] http://dsc.discovery.com/

[22] http://en.wikipedia.org/wiki/How_It's_Made

[23] http://en.wikipedia.org/wiki/How_Do_They_Do_It%3F

[24] http://en.wikipedia.org/wiki/Modern_Marvels

[25] http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2012/11/30/8553.html

[26] http://nasional.kontan.co.id/news/sby-pertegas-era-buruh-murah-sudah-usai

[27] http://wekoabhinimpuno.blogspot.com/2012/07/jalan2-lhokseumawe.html

[28] http://id.wikipedia.org/wiki/Lhokseumawe

[29] http://id.wikipedia.org/wiki/Arun_Natural_Gas_Liquefaction

[30] http://www.etihadairways.com

[31] http://www.emirates.com/

[32] http://www.jgc.co.jp/en/04tech/04coal/jcf.html

[33] http://en.wikipedia.org/wiki/Coal_gasification

[34] http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/13/01/04/mg3u5b-menkeu-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-kedua-terbaik-setelah-cina

[35] http://www.tempo.co/read/news/2013/02/05/090459261/Pertumbuhan-Ekonomi-2012-Meleset-Dari-Target

[36] http://www.airbus.com/presscentre/pressreleases/press-release-detail/detail/lion-air-orders-234-a320-family-aircraft/

[37] http://archive.bisnis.com/articles/industri-hulu-migas-bumn-didorong-tingkatkan-nilai-kandungan-lokal#

2 comments:

  1. Tulisan yang bagus Om Weko, mo nambahin aja beberapa sumber referensi terkait Industri Migas sebagai faktor penggerak ekonomi nasional. Bukan hanya industri yg berhubungan langsung dengan semtor migas saja. Tapi juga industri lain, sebagai manifestasi peningkatan pertumbuhan sektor finansial nasional, cek referensi2 berikut tentang pemberdayaan lembaga finansial bank bank non bank yang terimbas dampak positif kebijakan hulu migas yang pro nasional
    http://www.skspmigas-esdm.go.id/dana-asr-migas-di-bank-nasional-us-345-juta

    http://www.skspmigas-esdm.go.id/sektor-hulu-migas-perkuat-industri-asuransi-nasional

    http://www.skspmigas-esdm.go.id/transaksi-pengadaan-hulu-migas-di-bank-nasional-capai-rp-235-triliun

    http://www.skspmigas-esdm.go.id/industri-hulu-migas-berpihak-pada-produk-dalam-negeri

    ReplyDelete
  2. Iya terima kasih utk masukannya. Kebijakan utk melibatkan lembaga finansial nasional dalam kegiatan hulu migas sangat bagus.

    Moga2 selanjutnya kita bisa lebih eksis menjadi Tuan Rumah di negeri sendiri.

    ReplyDelete

Please feel free to leave your comment. Do not include violence, adult content, spam message, racism in the comment. The comments will be soon published after the author of this blog makes the moderation. Thank you in advance for visiting this blog. Best regards from the author.