Sunday, December 21, 2008

I don't drink Alcohol

Ketika menuju kamar setelah pulang dari acara rawonan, aku dipanggil untuk gabung dengan pesta temen2 lantai. Pesta menyambut hari terakhir sebelum mulai libur panjang untuk natal dan tahun baru. Dengan ramahnya, mereka menyodorkan sebuah botol. Walau gak ngerti bahasa Prancis, tapi dari gesture tubuh nampaknya mereka mengajak untuk minum bareng. Lalu ku jawab "I'm sorry, I don't drink Alcohol".
Kemudian mereka menyodorkan sebuah botol Coca Cola. Obrolan pun berlanjut, beberapa orang menanyakan nama dan asal (Walaupun teman selantai, selama ini memang agak jarang berinteraksi). Ku jawab "Weko, from Indonesia". "How do you spell it?" timpal salah seorang dari mereka. "W - E - K - O" jawabku. Selanjutnya ditanyakan, "Why don't you drink alcohol? Is it because of personal reason or something else?". Akupun menjawab, "I am a Muslim, it is forbiden for a muslim to drink alcohol and eat porc". Mendengar jawabanku, salah seorang dari mereka berdiri kemudaian berkata sesuatu yang tak ku mengerti. Maklum gak ngerti bhs Prancis. Teman disebelahku yang sudah tahu bahwa aku parah dalam bahasa Prancis bertanya kepadaku "Do you understand what he talk about?". "Well, actually not" timpalku. "He said that it is good that you are a muslim and don't drink alcohol. Because he has a friend that is a muslim but he drinks alcohol" jawabnya. Astagfirullah gumam hatiku. "You also have a special month in a year where you don't eat during the day what is it called?" tanya teman sebelahku. Aku menjawab "Fasting month". "No the other one, its called Ramadhan?" tanyanya lagi. "Yes" jawabku. Obrolan pun berlanjut saling berkenalan dengan orang2 yang selama ini belum sempat berkenalan. Setidaknya dalam lantai tersebut hadir delegasi dari berbagai negara seperti: Prancis, Jerman, China, Rumania dan tentunya Indonesia.
Walau masalah alkohol sudah selesai dibahas, ada juga yang masih "penasaran". "Is it true that you never taste alcohol? Just try a little..." Ucapnya sambil menyodorkan sebotol bir. Hah dasar, gumam hatiku. Aku pun menjawab dengan tegas "No".
Akhirnya (untungnya dan leganya), penjaga gedung datang ke dapur. Sudah malam, saatnya dapur di kunci. Pesta mabuk lantai pun berakhir. Masing-masing delegasi kembali ke kamarnya. Keesokan paginya, sisa2 dari pesta mabuk masih terlihat. Baru siang hari beresnya.

No comments:

Post a Comment

Please feel free to leave your comment. Do not include violence, adult content, spam message, racism in the comment. The comments will be soon published after the author of this blog makes the moderation. Thank you in advance for visiting this blog. Best regards from the author.