Wednesday, November 21, 2007

Pengantin Islam


Judul lengkap buku ini adalah "Pengantin Islam, Adab Meminang dan Walimah menurut Al Quran & Sunah".

Buku ini sangat cocok bagi para muda-mudi Islam yang mulai memasuki usia pernikahan. Materi dalam buku ini dituturkan dengan cukup ringkas menggunakan bashasa yang mudah dimengerti.

Selain menambah ilmu bagi pembacanya, buku ini cukup baik dalam memotivasi generasi muda-mudi Islam dalam membangun keluarga sakinah.

Judul: Pengantin Islam
Pengarang: Dr Abdullah Nashih'ulwan
Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tmhid
Penerbit: Al-I'Tishom
Personal Rating: 8,2

Job Seeker


A week after graduation, there was a career day in ITB. Finally, its “job-seeking” time. It was the first time searching a professional career. I felt that getting a job was really a process of struggle. Sure a lot of jobless people searching a job.

After several observations, I tried to apply some companies. My first test was held by Schlumberger. After hearing the presentation, I was quite confidence for the test. Looks like not gonna be that hard.

The first selection of the test was English test. Every applicant was given question and then they must answer the question in 3 minutes. After several people went for the test, it was my turn. I was given a question to tell all I know about organization. When I answer, suddenly I became nervous and my pronunciation wasn’t good. Maybe because I didn’t practice before. So I decided not to see the test result, because I was sure at that time I was not qualified for the next test.

Forgetting the bad day, I filled the rest of the day legalizing my certificate and searching info in the net. When I was online at YM, suddenly my friend asked me why I wasn’t doing the next step. I was quite surprise knowing that I was qualified for the next test. But it was too late for me to know, the test was already held.

At least after that day, I learned something. We must appreciate little things that we have done because maybe someone appreciates it also. Don’t be overconfidence, practice and experiences make perfect result.

Just do your best and let Allah SWT take rest.

Menuntut Ilmu

Barangsiapa mempelajari suatu ilmu bukan karena Allah, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk memperoleh harta benda dunia, maka ia tidak akan mendapat bau harum surga pada hari kiamat nanti.
(HR Abu Daud)

Sejarah Daulah Khilafah Islamiyah (570-1924 M)

Film dokumenter ini dibuat Untuk memberikan gambaran bagi generasi muslim abad ke 21 tentang Daulah Khilafah Islamiyah. Film ini sangat bagus dalam memberi pemahaman tentang sejarah Islam. Selama ini, sejarah biasanya diadopsi dari sejarah bangsa barat (Eropa-Amerika) yang tentunya banyak dimanipulasi untuk kepentingan mereka.

Film ini terdiri dari 3 seri, yakni
Seri 1: Membangun Peradaban Islam (570-632 M)
Seri 2: Kejayaan Peradaban Islam (632-1453 M)
Seri 3: Menguasai Tiga Benua (1453-1924 M)

Penuturan sejarah yang menarik dalam film tidak membuat para penonton bosan.

Produksi: El MOesa
Personal Rating: 8,3

Alumni SLTPN 9 Bandung

Salat Al-Janazah


The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) and his companions (may Allaah be pleased with them) explained how the funeral prayer is to be done. It is done as follows:


You say the first Takbeer (“Allaahu akbar”), then you seek refuge with Allaah from the accursed Shaytaan, then you say Bismillah ir-Rahmaan ir-Raheem and recite al-Faatihah followed by a short soorah or some aayahs. Then you say Takbeer and send blessings upon the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) as one does at the end of the prayer. Then you say a third Takbeer and make du’aa’ for the deceased. The best is to say:


Allaahumma ighfir lihaayina wa mayitina wa shaahidina wa ghaa’ibina wa sagheerina wa kabeerina wa dhakarina wa unthaana. Allaahumma man ahyaytahu minna fa ahyihi ‘ala’l-Islam wa man tawaffaytahu minna fa tawiffahu ‘ala’l-eemaan. Allaahumma ighfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa a’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkhalahu waghsilhu bi’l-maa’ wa’l-thalj wa’l-barad, wa naqqihi min al-khataaya kama yunaqqa’ al-thawb al-abyad min al-danas. Allaahumma abdilhu daaran khayra min daarihi wa ahlan khayra min ahlihi. Allaahumma adkhilhu al-jannah wa a’idhhu min ‘adhaab il-qabri wa min ‘adhaab il-naar wa afsah lahu fi qabrihi wa nawwir lahu fihi. Allaahumma laa tahrimna ajrahu wa la tadillanaa ba’dahu


(O Allaah, forgive our living and our dead, those who are present among us and those who are absent, our young and our old, our males and our females. O Allaah, whoever You keep alive, keep him alive in Islam, and whoever You cause to die, cause him to die with faith. O Allaah, forgive him and have mercy on him, keep him safe and sound and forgive him, honour the place where he settles and make his entrance wide; wash him with water and snow and hail, and cleanse him of sin as a white garment is cleansed of dirt. O Allaah, give him a house better than his house and a family better than his family. O Allaah, admit him to Paradise and protect him from the torment of the grave and the torment of Hell-fire; make his grave spacious and fill it with light. O Allaah, do not deprive us of the reward and do not cause us to go astray after this).”


All of this was narrated from the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him). If you make du’aa’ with other words, this is OK, for example, you could say, “Allaahumma in kaana muhsinan fa zid fi ihsaanihi wa in kaana musee’an fa tajaawaz ‘an sayi’aatihi. Allaahumma ighfir lahu wa thabbit-hu bi’l-qawl il-thaabit” (O Allaah, if he was a doer of good, then increase his good deeds, and if he was a wrongdoer, then overlook his bad deeds. O Allaah, forgive him and give him the strength to say the right thing).” Then you say a fourth Takbeer and pause for a little while, then you say one Tasleem to the right, saying “Assalaamu ‘alaykum wa rahmat-Allaah.”


Taken from:


http://www.islam-qa.com/index.php?ref=12363&ln=eng

Saturday, November 17, 2007

Sebuah Janji

Novel fiksi ini mengambil latar belakang sejarah pasca serbuan/ekspansi bangsa Mongolia ke seluruh dunia. Disini kita akan disajikan mengenai mengenai tujuan hidup bagi bangsa mongol dan kaum muslim. Kekuasaan dan harta tak selamanya indah dan menentramkan hati.

Kesan mendalam dari novel ini adalah keikhlasan berjuang di jalan Allah. Patut di contoh oleh kita semua untuk senantiasa ikhlas dan berani untuk mengatakan kebenaran apapun yang dihadapi.

Pengarang: Shinta
YudisiaPenerbit: Gema Insani
Personal Rating: 8,2/10

nb: buku ini merupakan trilogi yang dilanjutakn dengan judul "Lost Prince" dan edisi terakhir blm tahu.

Kontroversi Buah Merah


Sejak beberapa tahun yang lalu, buah merah (Pandanus Coneideus) menjadi terkenal karena dianggap mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Penjualan buha merah, yang biasanya berbentuk minyak, menjadi laris manis. Tak tanggung-tanggung, penyakit seperti kanker dan HIV/AIDS pun dikatakan mampu disembuhkan. Semua itu berdasarkan penuturan pasien.


Bila kita mencermati lebih dalam tentang buah merah. Ada beberapa hal yang mengganjal. Buah merah telah "booming" sejak beberapa tahun tapi publikasi ilmiah (juranal) tentang hasil penelitian ilmiahnya masih kurang. Bila kita mencoba mencari di google tentang "buah merah" atau "Pandanus Coneideus", hasilnya minim. Lebih banyak mengenai penawaran produk daripada hasil penelitian. Terdapat satu publikasi ilmiah dari FMIPA UI, hasilnya adalah buah merah tidak memberi efek signifikan.
(ada di http://jurnal.farmasi.ui.ac.id/pdf/2006/v03n03/munim.pdf)


Bila buah merah dapat menyembuhkan berbagai penyakit ganas, mengapa jumlah penelitian maupun publikasi ilmiahnya masih minim? Apakah karena biayanya yang sangat mahal? Bukankah bila teruji ilmiah maka dapat menghemat biaya perawatan penyakit-penyakit ganas yang memakan biaya mahal? Sehingga mahal di penelitian awal tetapi nantinya dapat menurunkan biaya pengobatan pasien.


Masyarakat harus hati-hati dalam menelahan berita dan informasi. Bila tidak, maka penggunaan obat yang kurang jelas dapat membawa dampak memperburuk pasien. Kalau itu sampai terjadi, siapa yang mau bertanggung jawab. Disini dapat kita simpulkan bahwa harus ada perbaikan di sektor kesehatan.

Tuesday, November 13, 2007

Peranan Media dalam Pendidikan Anti-Korupsi

Korupsi telah amat membudaya dalam tata kehidupan bangsa Indonesia. Maka tak heran bila saat ini ada sekitar 12.400 laporan korupsi yang masuk ke meja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pemberitaan di media pun tak kalah banyaknya. Sekarang kita sudah tidak aneh lagi bila mendengar atau membaca kasus tentang pejabat yang menggelembungkan anggaran (mark up), pengusaha yang menyelewengkan dana, pencekalan dan pemerikasaan terkait kasus korupsi.

Maraknya pemberitaan tentang kasus korupsi telah membawa dampak positif bagi pendidikan antikorupsi. Setidaknya terdapat tiga peranan media bagi pendidikan antikorupsi, pertama menimbulkan rasa was-was bagi orang yang hendak melakukan korupsi dikarenakan takut akan hukumannya. Kedua menimbulkan efek jera bagi pelaku korupsi akibat rasa malu yang diterima oleh si pelaku maupun keluarganya. Ketiga mendidik masyarakat untuk dapat mengetahui jenis dan pola korupsi sehingga dapat peka terhadap suatu gejala korupsi.

Media memang memiliki peranan penting dalam proses pendidikan dan penyampaian informasi kepada masyarakat. Dalam hal ini, pendidikan antikorupsi yang selama ini tidak ada dalam mata pelajaran dapat terfasilitasi melalui media massa.

Mengingat pentingnya peranan media dalam pendidikan antikorupsi maka pengembangan-pengembangan perlu dilakukan. Pola pemberitaan korupsi yang selama ini banyak berbentuk hard news dapat diubah menjadi feature sehingga dapat memberikan efek yang lebih mendalam tentang seluk-beluk korupsi kepada para pembaca. Selain itu, perlindungan terhadap wartawan peliput dan media yang memberitakan kasus korupsi perlu untuk ditegakan. Hal ini mengingat peliputan dan pemberitaan terhadap kasus-kasus korupsi berskala besar seringkali tak luput dari bahaya pengerahan premanisme. Tak lupa, peranan media ini perlu untuk dijaga sehingga tidak melenceng dari jalurnya semula. Tak jarang ada wartawan atau media yang malah menggunakan isu korupsi untuk memeras. Menjaga kredibilitas media adalah cara agar dipercayai oleh para pembacanya.

Pendidikan antikorupsi tidak harus dilakukan dalam pendidikan formal. Salah satu alternatif pendidikan antikorupsi yang telah terbukti cukup efektif adalah melalui media massa.