Monday, October 22, 2007

Kalendar Hijriyah

Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, umat Islam menjalankan ibadahnya tak terlepas dari pergerakan matahari, bumi dan bulan. Tanda-tanda matahari dijadikan patokan dalam menjalankan ibadah salat wajib. Fenomena gerhana dijadikan patokan dalam menjalankan salat gerhana. Hilal dijadikan patokan dalam melaksanakan ibadah shaum dan haji.


Disebutkan dalam QS Yunus 5 dan Al Baqarah 189

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS Yunus 5)

Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS Al Baqarah 189)


Pergantian bulan ditandai dengan munculnya hilal (bulan sabit baru). Rentang waktu antara munculnya suatu hilal dengan hilal berikutnya (1 bulan hijriyah) adalah lebih besar dari 29 hari dan lebih kecil dari 30 hari (1 hari = 24 jam). Dalam notasi matematika {29 hari, 1 hari = 24 jam}


Tiap 12 bulan hijriyah ditetapkan sebagai siklus 1 tahun, dimulai dengan bulan Muharram dan berakhir pada bulan Dhzulhijjah. Ke-12 bulan pada kalendar hijriyah adalah: (1) Muharram, (2) Safar, (3) Rabiul awal, (4) Rabiul akhir, (5) Jumadil awal, (6) Jumadil akhir, (7) Rajab, (8) Syaban, (9) Ramadhan, (10) Syawal (11) Dhzulqaidah, dan (12) Dhzulhijjah.


Kalendar hijriyah tidak memperhitungkan revolusi bumi terhadap matahari sehingga kalendar hijriyah tidak berkaitan dengan musim. Sebagai contoh, ibadah shaum pada bulan Ramadhan dapat dilaksanakan pada musim panas, salju, gugur ataupun semi. Siklus musim yang sama dapat kembali terjadi setiap 33 tahun hijriyah.


Pergantian hari dalam kalendar hijriyah ditetapkan berdasar waktu matahari terbenam di ufuk barat atau disebut dengan waktu Maghrib. Jadi hari dalam kalender Hijriyah dimulai dari malam. Dalam Al-Quran, malam selalu disebut terlebih dahulu malam kemudian siang.

No comments:

Post a Comment

Please feel free to leave your comment. Do not include violence, adult content, spam message, racism in the comment. The comments will be soon published after the author of this blog makes the moderation. Thank you in advance for visiting this blog. Best regards from the author.