Friday, August 10, 2007

Tidak Harus dengan Ritual Upacara 17 Agustusan

Mendekati bulan Agustus, dipelosok-pelosok Indonesia mulai terlihat berbagai kesibukan untuk mempersiapkan perayaan kemerdekaan Indonesia. Perayaan tersebut sering lebih dikenal dengan 17 Agustusan. Berisikan berbagai acara mulai dari "ritual" upacara bendera, acara lomba sampai ke malam kesenian.

Lalu yang menjadi pertanyaannya adalah sebagai berikut: Apa esensi dari upacara bendera tersebut? Mengapa harus tanggal 17 Agustus? Apakah para pejuang yang telah berkorban (insya Allah syahid) untuk kita membutuhkan "ritual" tersebut?

Bukannya saya tidak belajar PMP atau PPKn, tetapi marilah kita coba lihat lebih jauh lagi. Seringkali upacara bendera merupakan alat untuk menanamkan pola pikir nasionalisme dalam diri kita. Bagi saya, cobalah kita berpikir jauh. Jangan sampai pikiran kita hanya terpola pada kesamaan nasib "leluhur" (terjajah 350 tahun oleh belanda).

Lebih dari 350 tahun yang lalu...,
Leluhur kita, nabi Adam a.s. dan Siti Hawa turun ke bumi.

Lebih dari 350 tahun yang lalu...,
Leluhur kita, para nabi dan rasul seperti Nabi Ibrahim a.s., Musa a.s., Yusuf a.s., Daud a.s., telah melawan penindasan yang dilakukan oleh Nebukandezar, Firaun, Jalut dll.

Lebih dari 350 tahun yang lalu....,
Baginda Rasulullah saw. dan para sahabat, telah berjuang meletakan dasar sebuah peradaban yang agung dan mulia.

Lebih dari 350 tahun yang lalu.....,
Para juru dakwah telah melakukan berbagai ekspedisi ke berbagai pelosok bumi. Sehingga kini kita menikmati sebuah rahmat yang mulia, Islam.

Sejak zaman Nabi Adam sampai sekarang, perlawanan terhadap kedzaliman masih berlangsung. Jangan sampai pikiran kita tereduksi dalam 350 ke-dzaliman Kompeni(Belanda) di pulau-pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dll.

Bila berbicara ke-dzaliman kompeni/belanda, bukankah mereka juga menjajah Suriname? Lalu mengapa mereka tidak melakukan ritual 17 agustusan? Apakah karena alasan waktu proklamasi yang tidak sama? Bukankah papua pun masih diduduki oleh belanda setelah 17 agustus 1945. Ataukah karena alasan jarak yang jauh? Lalu siapa yang berhak menentukan suatu daerah terlalu jauh untuk tidak diaku dalam proklamasi kemerdekaan?

Let's try to think big...
Mari kita coba untuk berpikir jauh dan besar. Jangan sampai terkungkung dalam sejarah kelam 350 tahun terdzalimi oleh kompeni Belanda. Kita ini adalah keturunan dari Nabi Adam, mari berpikir sebagai Bani Adam.

No comments:

Post a Comment

Please feel free to leave your comment. Do not include violence, adult content, spam message, racism in the comment. The comments will be soon published after the author of this blog makes the moderation. Thank you in advance for visiting this blog. Best regards from the author.